“Namun, rendahnya inflasi juga belum cukup menjadi dasar untuk menurunkan BI-Rate, karena tekanan inflasi dari luar negeri belum sepenuhnya hilang,” katanya.
Josua mengingatkan, saat ini indeks harga komoditas impor Juli meningkat 12,50% secara tahunan dan rupiah masih terdepresiasi 10,53% secara tahunan. Dengan kata lain, inflasi saat ini jinak, tetapi risiko kenaikan harga akibat pelemahan rupiah dan harga komoditas masih cukup besar. Ini memberikan alasan kuat untuk menahan, bukan memangkas suku bunga.
Kedua, kata Josua persoalan utama BI saat ini bukan inflasi, melainkan keseimbangan eksternal. Defisit transaksi berjalan diperkirakan membesar dari US$4,01 miliar atau 1,09% PDB pada triwulan I menjadi sekitar defisit US$11,56 miliar atau -3,09% PDB pada triwulan II dan defisit US$10,87 miliar atau -3,03% PDB pada triwulan III.
Untuk keseluruhan 2026, defisit transaksi berjalan diperkirakan berkisar defisit US$36,15 miliar atau -2,46% PDB, jauh melebar dibandingkan hanya 0,11% PDB pada 2025.
Penyebab pentingnya menurutnya adalah surplus perdagangan barang yang menyusut drastis. Surplus barang diperkirakan hanya US$0,13 miliar pada triwulan II dan US$0,62 miliar pada triwulan III, sementara impor tetap kuat. Kondisi ini konsisten dengan data PDB triwulan II dengan ekspor yang hanya tumbuh 4,13%, sedangkan impor melonjak 8,82%. Jadi, permintaan dolar dari aktivitas ekonomi meningkat lebih cepat daripada tambahan pasokan devisa dari ekspor.
“Implikasinya sangat penting bagi kebijakan BI. Transaksi finansial memang diperkirakan membukukan surplus US$24,32 miliar sepanjang 2026, tetapi jumlah tersebut belum cukup untuk menutup defisit transaksi berjalan US$36,15 miliar,” katanya.
Imbasnya, neraca pembayaran secara keseluruhan diproyeksikan masih defisit sekitar US$12 miliar dan cadangan devisa diperkirakan berakhir hanya sekitar US$145,26 miliar. Dengan struktur seperti ini, stabilitas rupiah semakin bergantung pada keberlanjutan arus modal portofolio.
“Karena itu, menurunkan BI-Rate sekarang berisiko prematur, penurunan suku bunga dapat mengurangi daya tarik aset rupiah justru ketika kebutuhan pembiayaan eksternal meningkat,” katanya.
Alasan ketiga, cadangan devisa masih memadai, tetapi arah pergerakannya memberi alasan bagi BI untuk tetap berhati-hati. Cadangan devisa sudah turun dari US$156,47 miliar pada akhir 2025 menjadi US$145,3 miliar pada akhir Juli 2026.
Penurunan Juli sendiri mencerminkan pembayaran utang luar negeri pemerintah dan intervensi BI untuk menstabilkan rupiah. Walaupun cadangan tersebut masih setara 5,5 bulan impor dan jauh di atas ukuran kecukupan internasional, trennya tidak dapat diabaikan.
Kami memperkirakan cadangan devisa sekitar US$144,14 miliar pada triwulan III dan US$145,26 miliar pada akhir tahun. Artinya, BI memiliki amunisi yang cukup, tetapi tidak ideal apabila stabilisasi rupiah terus dilakukan terutama dengan menjual cadangan devisa. Menahan BI-Rate pada 5,75% membantu mengurangi kebutuhan intervensi tersebut dengan mempertahankan daya tarik imbal hasil rupiah.
Alasan keempat, perkembangan arus modal pada Agustus membaik, tetapi kualitas pemulihannya belum cukup kuat untuk membenarkan penurunan suku bunga.
Kepemilikan asing di SBN hanya meningkat dari sekitar Rp892 triliun pada akhir Juli menjadi Rp895 triliun per 13 Agustus. Sebaliknya, pemulihan lebih nyata terjadi pada SRBI: kepemilikan nonresiden meningkat dari sekitar Rp287,06 triliun pada akhir Juli menjadi Rp301,95 triliun pada 13 Agustus.
“Secara keseluruhan sepanjang 2026, arus asing juga masih sangat bergantung pada SRBI; data menunjukkan arus kumulatif sekitar US$0,87 miliar ke obligasi, arus keluar sekitar US$4,21 miliar dari saham, tetapi arus masuk sekitar US$10,06 miliar ke SRBI,” katanya
Ini positif bagi stabilitas jangka pendek, tetapi juga menunjukkan bahwa rupiah masih bergantung pada imbal hasil instrumen BI yang menarik. Jika BI menurunkan suku bunga terlalu dini, sebagian daya tarik tersebut dapat berkurang.
Pertahankan Proyeksi Suku Bunga 5,75% Hingga Akhir Tahun
Josua menyebut hingga akhir tahun dirinya memproyeksi bahwa BI akan mempertahankan suku bunga di 5,75% hingga akhir 2026, disertai perkiraan rata-rata rupiah sekitar Rp18.276 per dolar AS pada triwulan III dan posisi akhir triwulan sekitar Rp18.180, sebelum membaik ke sekitar Rp17.906 pada akhir tahun.
“Bias kebijakan baru dapat berubah lebih longgar apabila defisit transaksi berjalan ternyata lebih kecil dari perkiraan, cadangan devisa mulai meningkat secara berkelanjutan, arus asing beralih dari sekadar SRBI menuju SBN dan investasi langsung, serta tekanan suku bunga AS turun secara meyakinkan,” katanya.
Sebaliknya, apabila rupiah kembali melemah secara persisten menuju Rp18.300 atau lebih, bersamaan dengan arus modal keluar dan cadangan devisa turun lebih cepat, maka opsi kenaikan 25 basis poin perlu kembali tersedia.
Tetapi menurut Josua, dalam skenario dasar Agustus menahan suku bunga sambil memperkuat intervensi dan daya tarik instrumen rupiah memberikan perbandingan manfaat dan biaya yang lebih baik dibandingkan menaikkan ataupun menurunkan BI-Rate.
“Secara sederhana, ada tiga kekuatan yang saling menahan. Inflasi rendah dan moderasi permintaan domestik menolak kenaikan suku bunga; membaiknya data inflasi AS dan rupiah yang kembali dari Rp18.000 menuju kisaran Rp17.800–Rp17.900 juga mengurangi urgensi kenaikan,” katanya
Namun demikian, pelebaran defisit transaksi berjalan, penurunan cadangan devisa, ketergantungan pada arus portofolio, serta masih tingginya imbal hasil global membuat penurunan suku bunga belum aman. Itu menghasilkan titik keseimbangan yang cukup jelas pada 5,75%.
(ell)



























