Logo Bloomberg Technoz

Pelemahan rupiah pada kuartal kedua menjadi pelemahan yang paling dalam. Sebab, kinerja rupiah sedikit membaik saat memasuki kuartal ketiga rupiah dengan penguatan terbatas 0,18%. Meski begitu, penguatan pada kuartal ini belum bisa memangkas pelemahan sepanjang 2026 yang tercatat 6,49%. 

Pemicu memburuknya kinerja rupiah di kuartal ini adalah kondisi perang di Timur Tengah yang kian memanas dan mengerek harga minyak mentah hingga hampir menyentuh US$120/barel. Kenaikan harga minyak ini memicu kekhawatiran defisit fiskal, bersamaan dengan kondisi fundamental domestik yang belum solid. 

Pelemahan rupiah yang terjadi sejak kuartal pertama dan berlanjut pada kuartal kedua ini telah menggerus cadangan devisa Bank Indonesia (BI). Secara nominal, cadangan devisa telah tergerus US$9,28 miliar, dari posisi Januari yang sebesar US$156,47 miliar, menjadi US$145,3 miliar pada Juli. 

BI juga tercatat mengambil sikap ketat secara agresif dengan menaikkan BI Rate sebesar 50 basis poin (bps) pada Mei menjadi 5,25%, kemudian menaikkan 25 bps pada Juni menjadi 5,5%, dan kembali menaikkan 25% bps tambahan di bulan yang sama hingga BI Rate berada di 5,75%. Artinya, BI sudah mengambil langkah hawkish dengan menambah 100 bps dalam waktu yang relatif singkat. 

Rupiah Versus Mata Uang Asia

Sepanjang kuartal kedua, kinerja rupiah tak cuma melemah terhadap dolar AS, nilai tukar rupiah juga lesu terhadap mata uang Asia.

  • Rupiah melemah 4% terhadap peso Filipina;
  • 4,15%, terhadap ringgit Malaysia
  • 4,23% terhadap baht Thailand
  • 4,44% terhadap dolar Singapura
  • 3,1% terhadap won Korea Selatan
  • 2,67% terhadap yen Jepang
  • 5,13% terhadap rupee India
  • 5,43% terhadap dolar Taiwan
  • 6,3% terhadap yuan offshore
  • 6,44% terhadap yuan China
  • 5,22% terhadap dolar Australia
  • 4,96% terhadap dolar AS

Pelemahan rupiah yang cukup masif pada kuartal kedua lalu terhadap hampir semua mata uang mitra dagang tentu bukan hal yang bisa diabaikan. Nilai tukar yang terus melemah akan berdampak pada perekonomian, dan efeknya tak cuma memengaruhi pasar keuangan.

Sebab, semakin lemah rupiah, semakin besar juga biaya yang harus ditanggung perekonomian untuk membayar barang, jasa, maupun kewajiban dalam mata uang asing. Sebagai negara pengimpor minyak mentah, kenaikan harga minyak dan pelemahan rupiah yang terjadi bersamaan dapat menekan neraca perdagangan dan transaksi berjalan. 

Tak berhenti di minyak, ekonomi Tanah Air punya ketergantungan besar pada impor bahan baku dan barang perantara lainnya. Konsumen rumah tangga juga banyak mengandalkan barang impor, mulai beras, daging, hingga bahan baku makanan rakyat seperti tempe dan tahu, yakni kedelai.

Di sisi lain, pelemahan rupiah juga membuat utang luar negeri (ULN) dalam denominasi valuta asing jadi kian mahal jika dikonversikan ke rupiah. 

Sebagai catatan, pelemahan rupiah memang tidak otomatis membuat nilai ULN dalam dolar AS atau mata uang lainnya bertambah. Tapi, ketika utang tersebut dicatat atau dibayar dalam rupiah, maka nilai kewajibannya jadi meningkat. 

Untuk diketahui, sekitar seperlima (20,61%) dari porsi utang valas dalam instrumen Surat Berharga Negara (SBN) terpapar risiko kurs. Meski komposisi itu dinilai masih sehat, total utang pemerintah dalam bentuk Surat Berharga Negara (SBN) yang diterbitkan senilai Rp8.966,8 triliun. Sekitar 79,39% atau Rp7.118,4 triliun masih diterbitkan dalam denominasi rupiah, sementara Rp1.848,4 triliun atau sekitar 20,61% berbentuk valas. 

Dengan posisi utang valas Rp1.848,4 triliun, setiap pelemahan rupiah sebesar 1% terhadap seluruh mata uang utang, dengan jumlah surat utang dan nilai mata uang lainnya dianggap tetap, berpotensi menaikkan nilai rupiah sekitar Rp18,5 triliun. 

Hal ini juga bisa berdampak pada korporasi yang memiliki kewajiban valas tapi mayoitas penerimaan atau penghasilannya dalam mata uang rupiah. Depresiasi rupiah yang terjadi sepanjang kuartal pertama, dan semakin memburuk di kuartal kedua berpotensi meningkatkan debt service burden, dan dalam kondisi tertentu bisa memperburuk neraca perusahaan. 

Menginjak Agustus, kinerja rupiah lebih stabil dan tercatat menguat 0,85%. Namun, sejatinya pergerakan rupiah pada Agustus masih berada di atas asumsi dasar makro yang disepakati dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026.

Rupiah dalam APBN diproyeksikan berada di rentang Rp16.500-16.900/US$, namun pada Agustus rupiah masih tertahan di kisaran Rp17.760/US$ hingga Rp18.076/US$. Dengan rata-rata pergerakan rupiah di Rp17.898/US$, kinerja rupiah masih jauh berada lebih lemah daripada yang diasumsikan dalam APBN 2026. 

Meski begitu, pergerakan rupiah yang relatif stabil ketimbang volatilitas yang terjadi sepanjang kuartal kedua 2026. Hal ini memberi ruang bagi Bank Indonesia (BI) untuk menahan suku bunga BI Rate di 5,75%. BI dijadwalkan kembali mengumumkan tingkat suku bunga pada esok hari.

(dsp/aji)

No more pages