Dia menyebut, langkah tersebut membuat tak terdapat insiden keamanan pangan yang terjadi di MBG milik SPPG Bhayangkari. “Jadi kita belajar dari keberhasilan SPPG, beberapa SPPG salah satunya adalah SPPG yang dikelola oleh Bhayangkari ya dari Polri itu menggunakan test kit dan sampai saat ini tidak ada satu kasus pun keracunan. Jadi kita tidak ingin ada yang keracunan,” ungkap dia.
Lebih lanjut, dia menyatakan dari sekitar 27.000 SPPG, sebagian besar menjalankan program MBG secara baik dan tanpa masalah terkait keamanan pangan.
“Dan kita mengevaluasi bagi yang belum baik. Yang tidak bisa dievaluasi, tidak bisa diperbaiki, mohon maaf harus saya tutup. Dan bagi personil-personil yang tidak bisa mengikuti standar tinggi yang saya punya, mohon maaf harus saya copot,” ungkap dia.
Insiden keamanan pangan tersebut terjadi di Kabupaten Karo, khususnya di wilayah Berastagi. Sejumlah siswa di SMA Negeri 1 Berastagi dilaporkan mendapat perawatan setelah diduga mengalami keracunan usai mengonsumsi makanan MBG.
Pemkab Karo menyatakan siap bertanggung jawab atas penanganan para korban.
Kasus tersebut menjadi perhatian BGN karena melibatkan jumlah penerima manfaat yang cukup besar. Investigasi kemudian dilakukan untuk mengetahui penyebab insiden, termasuk proses penyimpanan dan pengolahan bahan makanan.
BGN selanjutnya akan memperketat penerapan prosedur keamanan pangan di seluruh dapur MBG. Sekitar 27.000 kepala dapur SPPG di seluruh Indonesia diminta memberikan perhatian khusus terhadap setiap tahapan pengolahan makanan.
Insiden di Karo untuk diketahui menambah daftar kejadian dugaan keracunan dalam pelaksanaan MBG di sejumlah daerah. Sebelumnya, ratusan siswa di Kabupaten Dairi, Sumatera Utara, juga dilaporkan mengalami gejala seperti mual, muntah, diare, dan pusing setelah mengonsumsi MBG.
BGN menegaskan evaluasi terhadap standar keamanan pangan akan terus dilakukan untuk mencegah kejadian serupa terulang.
(azr/wep)






























