"Mungkin akan butuh 15 hingga 20 tahun untuk kita menyelesaikan pembangunan Giant Sea Wall, tetapi kita harus mulai," kata Prabowo.
"Pembangunan ini kita bagi ke 15 segmen, dan jika dilaksanakan serentak bisa delapan tahun selesai."
Rencananya, kata Presiden, Giant Sea Wall juga akan menjelma menjadi infrastruktur air, dan jalur pertumbuhan ekonomi baru di wilayah pesisir Utara Jawa. Proyek rekayasa pesisir ini juga dinilai akan membangun kemampuan anak bangsa.
Terutama, menurut dia, sejumlah teknologi terkini yang sudah atau sedang dikembangkan peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Beberapa teknologi, kata dia, bisa digunakan dalam proyek tanggul laut raksasa tersebut.
Kilas Balik
Kilas balik soal Giant Sea Wall, proyek pembangunan tanggul laut raksasa ini sejatinya telah masuk dalam perencanaan nasional sejak lama, yaitu sekitar 1995 di bawah Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional Republik Indonesia (Bappenas).
Namun, pengumuman resmi terkait dengan kelanjutan megaproyek ini ditegaskan dan diumumkan oleh pemerintah melalui Badan Otorita Pengelola Pantai Utara Jawa pada Februari 2026.
Medio September 2025, Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Bappenas Rachmat Pambudy menyatakan proyek Giant Sea Wall dapat menjadi model baru dalam pengembangan kawasan perkotaan pesisir.
Menurutnya sekitar, 56% produk domestik bruto (PDB) Indonesia berasal dari Pulau Jawa.
Dari jumlah tersebut, sekitar 70% berasal dari kawasan Pantai Utara Jawa. Dengan demikian, berdasarkan perhitungan dari angka yang disampaikan Bappenas, kawasan Pantura Jawa berkaitan dengan sekitar 39,2% PDB nasional.
Kondisi tersebut membuat pembangunan Giant Sea Wall tidak hanya berkaitan dengan mitigasi bencana, tetapi juga dengan perlindungan aktivitas ekonomi nasional.
Di sisi lain, Kementerian Pekerjaan Umum (PU) dalam keterangan resminya sendiri menyatakan pemerintah telah melakukan berbagai kajian pembangunan tanggul laut bersama Belanda dan Korea Selatan sejak 2016, mulai dari Cilegon hingga Gresik dengan proyeksi panjang mencapai 946 km.
"Kami telah menyelesaikan pembangunan tanggul pengaman pantai utara Jakarta Tahap A sepanjang 12,66 km. Pada 2020, pembangunan dilanjutkan bersama Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dengan panjang tambahan mencapai 33,54 km," kata Menteri PU Dody Hanggodo.
Untuk tahap selanjutnya yaitu pembangunan tanggul laut Tahap B sepanjang 21 km, Dody menjelaskan saat ini pihaknya sedang melakukan kajian terkait pembiayaan dan studi kelayakan (feasibility study).
Studi kelayakan tersebut mempertimbangkan apakah desain tanggul akan mengacu pada Integrated Flood Safety Plan Giant Sea Wall Tahap B Jakarta yang disiapkan Kementerian PU pada 2020 atau menggunakan Masterplan 2016 dari Bappenas.
Selain wilayah Jakarta, tanggul laut juga tengah dibangun di wilayah Jawa Tengah secara terintegrasi dengan pembangunan Tol Semarang—Demak dan Tol Semarang Harbour.
Sementara itu, BRIN pada Mei 2026 menyatakan telah menyiapkan liam teknologi unggulan sebagai solusi melindungi Pantura dari ancaman banjir rob.
Kelima teknologi tersebut meliputi tanggul tegak modular multifungsi dan blok modular beton yang dirancang sebagai pelindung pantai sekaligus memiliki nilai tambah. Seperti penangkap energi gelombang dan jalur transportasi.
BRIN juga mengembangkan unit lapis lindung breakwater dengan sistem saling mengunci otomatis yang dinilai lebih stabil dan efisien.
Unit lapis lindung ini sudah diterapkan di 11 daerah, terakhir pada 2025 dikembangkan di Nusa Penida, setelah sebelumnya dikembangkan di Pacitan, Sanur, Tuban, dan Nias.
Pendekatan lainnya dengan menghadirkan platform arus laut yang memungkinkan tanggul dan dermaga berfungsi sebagai pembangkit energi mandiri, hingga pengembangan hybrid eco-engineering.
(wdh)































