Logo Bloomberg Technoz

Wacana Insentif EV Diminta Netral, Tak Prioritaskan Baterai Nikel

Sabrina Mulia Rhamadanty
15 August 2026 07:30

Paket baterai (battery pack) di depan kendaraan./Bloomberg-Naina Helen Jama
Paket baterai (battery pack) di depan kendaraan./Bloomberg-Naina Helen Jama

Bloomberg Technoz, Jakarta – Pakar energi dari Universitas Padjadjaran (Unpad) Yayan Satyakti menilai rencana insentif kendaraan listrik atau electric vehicle (EV) sebaiknya tidak hanya memprioritaskan jenis baterai tertentu, seperti yang berbasis nikel atau nickel manganese cobalt (NMC).

Yayan mengatakan pemerintah dinilai perlu menerapkan prinsip netralitas teknologi agar tidak merugikan konsumen serta menciptakan persaingan pasar yang sehat.

"Insentif pembelian sebaiknya diberikan berdasarkan kandungan lokal [TKDN] dan kinerja lingkungan dari perusahaan-perusahaan hulu atau intermediate-nya, bukan berdasarkan jenis kimia baterai,” ungkap Yayan saat dihubungi, Sabtu (15/8/2026).


Yayan menjelaskan pemberian insentif yang terfokus pada satu jenis kimia baterai sama saja dengan memaksa konsumen membiayai teknologi yang belum efisien. 

Rata-rata biaya produksi baterai nikel. (Dok: Bloomberg)

"Insentif yang diarahkan pada satu kimia baterai berarti membayar konsumen agar tidak memilih opsi yang lebih murah, yang kita tahu sekarang adalah baterai yang basisnya lithium ferro phosphate [LFP]— definisi teknis dari produk yang belum kompetitif pada harga pasar,” jelasnya.