Pola masuknya asing ke big banks juga telah terlihat dalam beberapa pekan terakhir. Setelah sebelumnya investor asing banyak melakukan tekanan jual di pasar saham, aliran dana mulai bergeser ke saham-saham bank dengan kapitalisasi besar dan likuiditas tinggi.
BBCA menjadi salah satu saham yang mencatatkan akumulasi asing cukup konsisten. Dalam sepekan perdagangan 6-10 Juli, BBCA mencatat net buy asing sekitar Rp600 miliar.
Akumulasi tersebut menjadi bagian dari pola pembelian asing yang berlangsung sejak awal Juli.
Pergerakan harga saham turut mencerminkan pemulihan tersebut. BBCA yang pada awal Juli masih bergerak di kisaran Rp6.000-an kemudian menguat hingga menembus Rp6.400 pada pertengahan bulan.
BBRI dan BBNI juga bergerak menguat pada periode yang sama, meski pergerakannya tetap dibayangi volatilitas pasar secara keseluruhan.
Rotasi tersebut terjadi setelah saham-saham big banks sebelumnya menjadi salah satu kelompok yang mengalami tekanan cukup besar sepanjang paruh pertama 2026.
Adapun hingga akhir semester pertama tahun ini, BBCA, BBRI, BMRI, dan BBNI masih mencatatkan net sell asing secara year to date.
Namun, dari sisi fundamental, kinerja bank besar pada semester I 2026 relatif tetap terjaga. Bank Mandiri membukukan laba bersih konsolidasi Rp30,4 triliun, tumbuh 24,4% secara tahunan. Kredit perseroan juga tumbuh 19,9% menjadi sekitar Rp1.592 triliun.
BBCA mencatat laba bersih Rp29,5 triliun pada periode yang sama, tumbuh 1,8% secara tahunan, dengan penyaluran kredit mencapai Rp1.036 triliun atau tumbuh 8%. BBRI dan BBNI juga masih membukukan pertumbuhan laba pada semester pertama tahun ini.
Rully mengatakan sentimen global sebenarnya mulai lebih mendukung, seiring penguatan bursa saham Amerika Serikat dan penurunan harga minyak. Namun, kondisi domestik masih menjadi penghambat bagi penguatan pasar saham Indonesia.
“Rupiah stagnan di Rp17.870 per dolar AS meski DXY turun ke bawah 100, mengindikasikan faktor domestik masih membatasi apresiasi. Kami melihat kondisi global membaik, tetapi keberlanjutan foreign selling dan rupiah tetap menjadi faktor pembatas IHSG,” ujar Rully.
Di sisi lain, rotasi asing ke big banks masih harus berhadapan dengan risiko dari perubahan komposisi indeks MSCI.
Samuel Sekuritas Indonesia mencatat, MSCI mengumumkan satu downgrade dan 10 saham yang dikeluarkan dari indeks. Perubahan tersebut berpotensi memicu arus dana keluar atau outflow sekitar US$251 juta-US$289 juta atau sekitar Rp4,5 triliun-Rp5,2 triliun.
Potensi arus keluar tersebut ikut meningkatkan kecemasan investor terhadap pasar Indonesia. Samuel menilai kondisi ini mendorong pelaku pasar mengambil sikap wait and see untuk melihat perkembangan selanjutnya.
“Hal ini, ditambah dengan kecemasan pasar mengenai apa yang akan terjadi selanjutnya, mendorong investor untuk mengambil sikap wait and see,” ungkap Samuel Sekuritas dalam risetnya.
Meski IHSG telah terkoreksi sekitar 28% secara year to date, Samuel Sekuritas menilai penurunan indeks belum sepenuhnya mencerminkan kondisi fundamental perusahaan.
Berdasarkan kajian terhadap 10 saham dengan kapitalisasi terbesar di masing-masing sektor, pertumbuhan laba hanya mengalami penurunan pada sektor rumah sakit dan consumer-related, sementara sektor lainnya masih mencatatkan pertumbuhan.
“Di tengah tahun yang penuh tantangan dan keraguan terhadap pasar, kami hanya melihat penurunan pertumbuhan laba pada dua sektor. Sektor lainnya masih mencatatkan pertumbuhan,” lanjut riset Samuel Sekuritas.
(cpa/naw)





























