Laporan data ekonomi di Amerika Serikat (AS) menjadi sentimen positif bagi harga emas. Bureau of Labor Statistics mengumumkan, inflasi Negeri Paman Sam pada Juli tercatat 0,1% dibandingkan bulan sebelumnya (month-to-month/mtm).
Secara tahunan (year-on-year/yoy), inflasi AS berada di 3,4% pada Juli.
Adapun laju inflasi inti (core) pada Juli adalah 0,2% mtm. Inflasi inti tahunan ada di 2,5% yoy, terendah sejak Maret 2021.
“Kejutan besarnya adalah tidak ada kejutan, semua data sesuai dengan ekspektasi pasar. Laju inflasi tidak terakselerasi. Ditambah dengan pasar tenaga kerja yang lemah, ini memberi waktu bagi The Fed (Federal Reserve, bank sentral AS) untuk menunggu,” sebut Chris Zaccarelli, Chief Investment Officer di Northlight Asset Management dalam catatannya, seperti dikutip dari Bloomberg News.
Data ini sepertinya bakal makin meyakinkan The Fed untuk tidak tergesa-gesa menaikkan suku bunga acuan. Berdasarkan CME FedWatch, peluang kenaikan Federal Funds Rate sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 3,75-4% pada rapat September adalah 40,1%. Turun dibandingkan posisi kemarin yaitu 48,1% dan seminggu lalu di 54,4%.
Emas adalah aset yang tidak memberikan imbal hasil (non-yielding asset). Memegang emas menjadi kurang menguntungkan saat suku bunga tinggi.
(aji)































