Logo Bloomberg Technoz

Nafan menerangkan potensi relief rally relatif besar terjadi apabila ada indikasi pencabutan atau pelonggaran freeze dari review MSCI. Skenario itu mendorong reli pada saham big caps yang memiliki fundamental kuat.

Sementara itu, jika freeze masih dipertahankan tetapi tidak ada eskalasi risiko, maka para pelaku pasar akan menerapkan strategi akumulasi secara selektif.

“Dan jika MSCI kembali memberikan warning keras atau memperbesar risiko reclassification, maka para pelaku pasar akan mengurangi eksposur pada saham yang memiliki masalah free float, konsentrasi kepemilikan, maupun likuiditas,” kata Nafan.

Menurut Mirae Sekuritas, PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN) berpotensi mengalami penurunan status dari MSCI Global Standard ke Small Cap.

Penyebab utamanya adalah penurunan harga saham secara signifikan sejak review Mei sehingga kapitalisasi pasar yang disesuaikan free float (FIF-adjusted market cap) turun di bawah ambang batas indeks standard.

“Sementara GOTO masih memenuhi persyaratan likuiditas secara umum,” kata Nafan.

Hanya saja, harga saham GOTO yang lama bertahan di level Rp50 dan likuiditas jangka pendek yang melemah membuat MSCI memiliki ruang untuk menggunakan diskresi terkait aspek replicability.

“Hal ini membuat status GOTO masih belum pasti,” kata Nafan.

Di sisi lain, BRI Danareksa Sekuritas (BRIDS) menyarankan investor untuk mengkaji arah kebijakan Foreign Inclusion Factor (FIF) dan Number of Shares (NOS) terhadap saham Indonesia.

Adapun, sejak 7 Juli 2026 tidak ada saham Indonesia yang anyar masuk ke dalam indeks MSCI. Selain itu, migrasi saham small cap ke standard juga tetap dibekukan.

Base case, freeze bertahan Agustus ini, pelonggaran substantif baru mungkin muncul di Market Accessibility Review berikutnya,” dikutip dari catatan BRIDS.

Di sisi lain, BRIDS sepakat dengan Mirae Asset ihwal risiko CPIN turun kelas ke small cap. Sementara itu, BRIDS berkeyakinan GOTO berisiko untuk didepak dari indeks lantaran likuiditas kering dan harga floor Rp50.

Selain itu, BRIDS menambahkan, saham PT MD Entertainment Tbk (FILM) juga berpotensi keluar dari portofolio MSCI lantaran masuk ke dalam daftar Kepemilikan Saham Terkonsentrasi Tinggi atau High Shareholding Concentration (HSC).

Harapan Regulator

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) berharap MSCI dan penyedia indeks global lainnya dapat memasukkan lebih banyak lagi saham Indonesia ke dalam portofolio mereka.

Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK Hasan Fawzi mengatakan lembagannya telah berupaya mendorong transparansi kepemilikan saham dan likuiditas pasar di Indonesia sejak awal tahun ini.

“Kita berharap dengan seluruh perkembangan agenda transparansi dan reformasi integritas di pasar modal, tidak dalam waktu lama para index provider global dapat secara fair melihat kelayakan itu,” kata Hasan kepada awak media di Jakarta, Senin (10/8/2026).

Selain itu, dia berharap, pembekukan atas indeks saham Indonesia di MSCI dapat segera dicabut seiring dengan konsultasi dan perbaikan data yang didorong oleh regulator belakangan.

“Mudah-mudahan saham-saham terbaik kita masih dipandang layak untuk menjadi tujuan investasi para investor global melalui tetap dipertahankannya saham-saham terbaik tersebut di dalam anggota Indeks MSCI, baik MSCI Standar maupun Emerging Markets,” kata Hasan.

Sebelumnya, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah 1,53% ke level 6.267 pada penutupan perdagangan kemarin jelang review MSCI.

Sejumlah saham LQ45 menjadi pendorong pelemahan IHSG, utamanya adalah PT Darma Henwa Tbk (DEWA) yang amblas 6,75%. Kemudian PT Hartadinata Abadi Tbk (HRTA) yang jatuh 5,45% dan saham PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI) tergelincir 5,22%.

Selain itu, PT Bumi Resources Tbk (BUMI) ikut amblas 4,81% dan saham PT Solusi Sinergi Digital Tbk (WIFI) merosot 4,56%.

(naw)

No more pages