Logo Bloomberg Technoz

Dokter Spesialis Kedokteran Olahraga, dr. Andi Kurniawan, mengatakan pada prinsipnya latihan seperti yang dilakukan Holland dapat dilakukan oleh pemula. Namun, gerakan dan intensitasnya perlu dimodifikasi sesuai kemampuan masing-masing.

"Pada prinsipnya boleh-boleh saja dilakukan untuk mereka yang terlatih atau buat mereka yang pemula. Itu mungkin bisa dimodifikasi, bukan versi aslinya," ujar Andi kepada Bloomberg Technoz, Senin (10/8).

Menurut dia, workout seperti Cindy memiliki intensitas dan volume yang cukup tinggi sehingga pemula tidak disarankan langsung mengikuti versi yang dilakukan atlet atau orang yang sudah terlatih.

"Untuk pemula prinsipnya adalah skill before load. Artinya, kemampuan melakukan gerakan dengan benar harus menjadi prioritas," katanya.

Andi mencontohkan gerakan pull-up. Bagi pemula yang belum mampu melakukan pull-up dengan baik, gerakan tersebut dapat dimodifikasi menggunakan resistance band atau terlebih dahulu melatih gerakan yang memiliki pola serupa seperti lat pulldown.

Hal serupa berlaku pada push-up. Pemula dapat menggunakan variasi yang lebih mudah, seperti melakukan push-up dengan tumpuan lutut, sebelum beralih ke bentuk gerakan standar.

Durasi latihan juga tidak harus langsung mengikuti format Cindy selama 20 menit. Pemula dapat memulai dengan durasi yang lebih pendek, sekitar 8-10 menit, kemudian meningkatkan durasi dan intensitas secara bertahap sesuai perkembangan kemampuan tubuh.

"Fokus pada kualitas gerakan, bukan jumlah repetisi," tutur Andi.

Menurut dia, tidak ada masalah menjadikan performa fisik seorang aktor seperti Tom Holland sebagai inspirasi. Namun, proses latihan tidak bisa disamakan begitu saja karena setiap orang memiliki kemampuan fisik, pengalaman latihan, dan kondisi kesehatan yang berbeda.

Risiko Jika Langsung Meniru

Andi mengatakan risiko dapat muncul apabila latihan dengan intensitas dan volume tinggi langsung dipaksakan kepada orang yang belum memiliki fondasi latihan yang cukup.

"Kalau dipaksakan tentu saja risikonya cedera. Karena judulnya bisa overuse, bisa cedera bahu, pergelangan tangan, atau bahkan lutut," jelasnya.

Latihan dengan gerakan berulang dalam volume tinggi dapat memberikan beban besar pada otot dan persendian, terutama jika teknik gerakan belum baik atau tubuh belum terbiasa dengan beban latihan.

Rasa pegal setelah berolahraga atau delayed onset muscle soreness (DOMS) juga dapat muncul setelah latihan. Namun, Andi menekankan pentingnya membedakan rasa pegal akibat adaptasi latihan dengan keluhan yang mengarah pada cedera.

Perlu Persiapan Sebelum Latihan

Andi mengatakan pemula sebaiknya memulai dengan mengetahui kondisi tubuhnya sebelum menjalani latihan dengan intensitas tinggi.

"Persiapannya tentu saja kita harus melakukan screening atau pemeriksaan kesehatan. Kita harus tahu kondisi kesehatan kita seperti apa, apakah kita fit untuk berlatih seperti Tom Holland atau tidak," ujarnya.

Selain kondisi kesehatan, fondasi gerakan juga perlu diperhatikan. Pemula sebaiknya memastikan movement quality atau kualitas gerakan sudah baik sebelum meningkatkan beban, volume, maupun intensitas latihan.

Pemanasan dan pendinginan juga tidak boleh dilewatkan sebagai bagian dari proses latihan. Menurut Andi, strategi latihan, manajemen beban, serta pemilihan gerakan perlu disesuaikan dengan kemampuan tubuh.

"Jangan lupa recovery, tidur, makan, itu adalah bagian penting dalam proses mencapai goals," katanya.

Dengan demikian, workout Tom Holland dapat menjadi inspirasi untuk berolahraga, tetapi bukan berarti pemula harus langsung mengejar jumlah repetisi atau durasi yang sama. Latihan sebaiknya dilakukan secara bertahap dengan mengutamakan teknik, kemampuan tubuh, dan pemulihan.

(dec/spt)

No more pages