Arif menjelaskan, jika teknologi pengganti LPG ini berhasil diterapkan secara massal di masyarakat, potensi penghematan devisa dan subsidi energi negara diperkirakan mencapai Rp26 triliun setiap tahunnya.
“Kalau ini [ANG] diterapkan maka bisa menghemat Rp26 triliun per tahun terkait dengan energi ini. Nah ini riset terus kita lakukan ini sedang masih uji coba, mohon doanya kalau ini bisa kita kembangkan lebih jauh ini akan menjadi revolusi energi di Indonesia,” ungkap Arif.
Dia menambahkan pengembangan teknologi ANG ini merupakan hasil kolaborasi strategis antara BRIN dengan peraih Nobel asal Jepang pada 2025.
Adapun, ini memanfaatkan material metal organic framework (MOF) untuk menciptakan sistem penyimpanan gas alam yang jauh lebih efisien dibandingkan teknologi gas lainnya, misalnya gas alam terkomresi atau compressed natural gas (CNG).
“Jadi ANG yang adsorbed natural gas ya, kalau dibandingkan dengan CNG itu tekanan hanya 30 bar [lebih kecil] dan kemudian memiliki daya simpan volume yang lebih besar,” katanya.
Arif menambahkan, setelah mendapat arahan Presiden Prabowo Subianto, BRIN akan menindaklanjuti pengembangan teknologi ANG bersama Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).
Menurutnya, implementasi teknologi tersebut memerlukan harmonisasi kebijakan agar hasil riset dapat segera diterapkan secara luas.
"Sekarang ini kita akan follow up dengan Pak Bahlil untuk menyusun kerangka implementasi dan harmonisasinya," katanya.
Meski demikian, Arif menegaskan teknologi ANG masih berada dalam tahap uji coba sepanjang 2026.
"[Hal] yang jelas di kami ini sedang uji coba. Mudah-mudahan 2027 bisa kita rilis [ANG]," ujarnya.
Berdasarkan data BRIN, ANG adalah teknologi penyimpanan dan transportasi gas alam yang memanfaatkan material berpori (adsorben) bernilai luas permukaan tinggi, seperti karbon aktif atau MOF.
Di dalam tabung penyimpan, molekul gas alam—yang mayoritas terdiri dari metana—terikat secara fisik pada pori-pori mikro material adsorben tersebut.
Prinsip penyerapan molekuler ini memungkinkan volume gas yang besar untuk dipadatkan dan disimpan ke dalam wadah tanpa membutuhkan kompresi mekanis ekstrem.
Keunggulan utama teknologi ANG terletak pada tekanan operasionalnya yang jauh lebih rendah dibandingkan metode konvensional seperti CNG.
Jika CNG memerlukan tekanan sangat tinggi mencapai sekitar 200 bar, tabung berbasis ANG mampu beroperasi pada tekanan sedang di bawah 30 bar.
Dari aspek aplikasi dan dampak ekonomi, ANG diproyeksikan sebagai salah satu inovasi strategis energi alternatif pengganti LPG untuk kebutuhan rumah tangga maupun transportasi.
Di Indonesia, riset pengembangannya yang dilakukan oleh lembaga seperti BRIN berpotensi memanfaatkan kelimpahan gas alam domestik guna menekan devisa impor LPG dan menghemat beban subsidi negara.
Meski demikian, penerapan komersial ANG secara luas masih memerlukan riset lanjutan pada efisiensi material adsorben, kestabilan pelepasan (desorpsi) gas, serta standarisasi teknis keamanan tabung.
(smr/wdh)































