Logo Bloomberg Technoz

Sejumlah antisipasi itu di antaranya optimalisasi jaringan dan kapasitas berdasarkan profitabilitas rute, peningkatan utilisasi dan produktivitas armada, hingga program efisiensi konsumsi bahan bakar.

GIAA juga melakukan optimalisasi profil dan perencanaan penerbangan, pengendalian biaya operasional, serta memperkuat pendapatan melalui berbagai inisiatif komersial dan ancillary revenue.

"Dari sisi komersial, kebijakan tarif Perseroan untuk penerbangan domestik sepenuhnya mengacu pada ketentuan Pemerintah, termasuk ketentuan Tarif Batas Atas (TBA) dan mekanisme fuel surcharge yang ditetapkan Regulator," jelas manajemen.

Sebelumnya, GIAA memangkas 128 karyawan pada kuartal I-2026. Perampingan itu berhasil memperbaiki posisi rugi maskapai milik negara tersebut.

Mengutip laporan keuangan perseroan, GIAA mencatat rugi sebesar US$46,48 juta atau sekitar Rp774,63 miliar (asumsi kurs Rp16.666 per dolar AS) pada kuartal I-2026.

Posisi rugi itu relatif susut dari rugi pada periode yang sama tahun sebelumnya sebesar US$79,49 juta atau sekitar Rp1,28 triliun (asumsi kurs Rp16.781 per dolar AS).

GIAA membukukan pendapatan sebesar US$762,35 pada kuartal I-2026, ditopang oleh penerbangan berjadwal sebanyak US$648,10 juta. Adapun, pos penerbangan berjadwal itu naik dari posisi tahun sebelumnya sebesar US$603,69 juta.

Hanya saja, pos pendapatan dari penerbangan tidak terjadwal susut 34,2% ke level US$24,98 juta. Pendapatan lain-lain dari bisnis GIAA menyumbang US$89,27 juta.

Adapun, beban usaha GIAA tercatat sebesar US$713,22 juta atau susut 0,72% dari beban usaha tahun sebelumnya sebesar US$718,36 juta.

Sementara itu beban usaha lainnya mempertebal posisi rugi GIAA, dengan porsi beban keuangan mencapai US$104 juta.

Kendati demikian, beban itu relatif dapat dijaga seiring dengan manuver manajemen untuk memangkas jumlah karyawan.

Sampai periode 31 Maret 2026, jumlah karyawan GIAA turun menjadi 10.724 orang dari sebelumnya 10.852 orang sepanjang 2025.

Di sisi lain, beban bahan bakar relatif susut ke level US$224,74 juta dari tahun sebelumnya sebesar US$233,42 juta.

Kenaikan harga avtur belakangan imbas konflik di Timur Tengah belum tercermin pada pembukuan periode kuartal I-2026.

Sementara itu, GIAA mencatat total liabilitas mencapai US$7,43 miliar, berasal dari liabilitas jangka pendek US$1,54 miliar dan jangka panjang sebesar US$5,89 miliar.

Adapun, total aset GIAA mencapai US$7,5 miliar dan total ekuitas susut ke level US$68,25 juta.

Garuda menegaskan akan terus memonitor perkembangan harga bahan bakar dan kondisi geopolitik serta mengevaluasi efektivitas langkah mitigasi yang dijalankan.

"Upaya tersebut menjadi bagian dari agenda transformasi perseroan untuk memperkuat fundamental operasional, profitabilitas, likuiditas, dan disiplin finansial sehingga Perseroan memiliki struktur bisnis yang semakin tangguh dalam menghadapi volatilitas eksternal," dikutip dari keterbukaan informasi.

Injeksi Danantara

Sebelumnya, GIAA mendapat suntikan dana Rp23,67 triliun dari BPI Danantara. Pendanaan dari Danantara diperoleh pada 5 Desember 2025 dalam bentuk capital injection senilai Rp23,67 triliun atau setara US$1,42 miliar.

Dana itu terdiri atas konversi pinjaman pemegang saham senilai Rp6,65 triliun serta penyertaan modal tunai sebesar Rp17 triliun.

Sekitar Rp15 triliun atau 64% suntikan dana dari Danantara dialokasikan untuk penyelesaikan kewajiban Citilink, sementara GIAA memperoleh alokasi Rp8,7 triliun untuk kebutuhan perawatan armada.

Di sisi lain, GIAA mencatat kas dan setara kas sebesar US$943,4 juta pada akhir 2025, meningkat dibandingkan posisi tahun sebelumnya sebesar US$219,1 juta.

“Peningkatan ini turut mencerminkan perbaikan likuiditas perusahaan yang menjadi fondasi penting dalam menjaga stabilitas operasional,” kata Direktur Utama GIAA Glenny Kairupan lewat keterangan pers bulan lalu.

Garuda Indonesia menargetkan akan mengoperasikan sebanyak 68 serviceable aircraft pada akhir tahun ini, sedangkan Citilink menargetkan serviceable aircraft  sebanyak 50 pesawat.

“Langkah optimalisasi serviceable aircraft yang ada pada 2026 akan diperkuat melalui proyeksi percepatan beberapa inisiatif strategis proses perawatan armada,” kata Glenny.

Inisiatif ini mencakup heavy maintenance airframe check pada armada Boeing 737-800NG, Boeing 777-300ER, serta Airbus A330.

Selain itu, Perseroan juga menjalankan overhaul dan shop visit untuk komponen utama seperti engine, Auxiliary Power Unit (APU), dan landing gear guna memastikan performa armada tetap optimal.

(dec/naw)

No more pages