Logo Bloomberg Technoz

“Pembukaan Selat [Hormuz] bergantung pada sejumlah kondisi lainnya, termasuk kompensasi atas pelanggaran yang dilakukan Amerika Serikat terhadap Islamabad Agreement,” kata Araghchi.

Dia merujuk pada memorandum of understanding (MoU) yang ditandatangani pada Juni lalu, yang hanya berlaku kurang dari sebulan sebelum runtuh akibat perbedaan pendapat mengenai pengendalian Selat Hormuz.

Selain kompensasi, Iran menginginkan Amerika Serikat untuk menghentikan blokade angkatan laut dan menarik pasukan militernya dari sekitar Iran, mencabut sanksi AS terhadap Iran, serta membebaskan aset-aset Iran yang dibekukan tanpa syarat, di antara tuntutan lainnya.

Hal tersebut disampaikan oleh Mohammad Bagher Zolghadr, seorang tokoh garis keras yang memimpin Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran.

Oman secara terpisah mengatakan melalui sebuah unggahan di X bahwa negosiasi berlangsung dalam “suasana yang positif dan konstruktif”.

Oman juga menyerukan penghentian tindakan-tindakan di Selat Hormuz agar tidak mengganggu upaya diplomatik untuk mencapai kesepakatan mengenai pelayaran.

Rute transit Selat Hormuz. (Bloomberg)

Belum jelas bagaimana Washington akan merespons kesepakatan final. Presiden AS Donald Trump selama berbulan-bulan telah mengatakan bahwa pelayaran bebas melalui Selat Hormuz harus kembali dibuka, bahkan mengancam akan melancarkan serangan baru terhadap Iran jika negara tersebut gagal membuka kembali selat itu.

Wakil Presiden AS JD Vance mengatakan bahwa terdapat sejumlah kemajuan dalam beberapa hari terakhir, tetapi masih belum jelas apakah hasil akhirnya akan dapat diterima oleh Amerika Serikat.

“Saya berusaha mengingatkan orang-orang bahwa kita sebenarnya masih berada di tengah-tengah permainan ini,” kata Vance dalam wawancara dengan Fox News pada Sabtu.

Menurutnya, pertanyaannya adalah apakah Iran akan mampu “memberikan hal-hal yang diperlukan agar kami merasa puas, agar kami merasa bahwa kami telah mendapatkan apa yang kami perlukan dari keterlibatan khusus ini.”

Ia juga mengatakan bahwa ranjau-ranjau Iran yang dipasang di selat tersebut pada awal perang harus dibersihkan, dan Teheran harus berkomitmen untuk tidak menembaki kapal-kapal komersial yang melintasi Hormuz.

“Apa yang benar-benar sedang kami upayakan sekarang adalah bagaimana membuat suatu sistem lalu lintas sehingga kapal-kapal yang melintas dapat melewati selat tersebut dengan aman.”

Abu Dhabi National Oil Co. (ADNOC) mengatakan bahwa rudal menargetkan salah satu kapalnya ketika sedang melintasi Selat Hormuz pada Sabtu pagi, menurut kantor berita pemerintah Uni Emirat Arab, WAM.

Serangan tersebut tidak menimbulkan korban luka dan situasinya telah berhasil dikendalikan, demikian laporan tersebut. Tiga kapal lainnya milik produsen minyak terbesar UEA itu juga telah diserang pada pekan ini.

Insiden tersebut menunjukkan bahwa risiko bagi perusahaan pelayaran yang berusaha melintasi Selat Hormuz masih tinggi selama konflik berlangsung.

“Kesepakatan untuk membuka kembali Selat Hormuz masih sulit dicapai, sementara investor berada dalam posisi yang sangat tidak pasti,” kata Rob Haworth, direktur senior strategi investasi di US Bank Wealth Management.

“Untuk saat ini, lalu lintas kapal masih rendah dan jalur menuju kesepakatan yang benar-benar bertahan lama masih belum jelas.”

Washington berulang kali menyatakan bahwa pihaknya ikut terlibat dalam negosiasi mengenai pengelolaan Selat Hormuz, sesuatu yang dibantah oleh Iran.

Amerika Serikat akan mencabut kembali pembatasan yang diberlakukan melalui blokade setelah kesepakatan antara Oman dan Iran untuk memulihkan pelayaran komersial diumumkan, menurut seorang pejabat AS.

Harga minyak bergerak naik-turun sepanjang pekan ini, karena para pedagang memantau peluang tercapainya kesepakatan yang diperkirakan dapat membuka jalan bagi pemulihan pasokan jutaan barel minyak dari Teluk Persia.

Harga minyak Brent ditutup di atas US$83 per barel, mencatatkan penurunan mingguan untuk pekan ketiga berturut-turut.

Lalu lintas melalui titik sempit strategis tersebut sebagian besar telah terhenti sejak perang dimulai. Namun, sejumlah kapal masih terus mengangkut kargo melalui jalur tersebut sebagai bagian dari program shuttle yang melibatkan bantuan militer AS.

Banyak kapal melakukannya dengan mematikan transponder mereka, sehingga perjalanan tersebut menjadi lebih sulit untuk dilacak.

Setiap kesepakatan mengenai Selat Hormuz harus mendapatkan persetujuan dari Pemimpin Tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei.

Para pejabat Iran mengatakan bahwa diperlukan waktu untuk menghubunginya, sehingga hal tersebut berpotensi menunda pengumuman kesepakatan.

Hingga saat ini, belum ada indikasi apakah Khamenei telah memberikan persetujuannya terhadap rencana yang sedang dibahas.

Sementara itu, bentrokan antara militan Houthi yang didukung Iran dan pemerintah Yaman yang didukung Arab Saudi serta diakui secara internasional juga mengancam akan semakin meningkatkan ketegangan di Timur Tengah.

Yaman mengatakan pada Sabtu bahwa angkatan bersenjatanya melakukan operasi militer pada malam sebelumnya terhadap kelompok Houthi, yang menguasai sebagian besar wilayah negara tersebut. Ini merupakan pembalasan pertama yang diketahui setelah serangkaian serangan yang terjadi pada pekan ini.

Kelompok Houthi dan koalisi pimpinan Arab Saudi telah menjalankan gencatan senjata sejak 2022, tetapi permusuhan kembali meningkat dalam beberapa pekan terakhir.

Peristiwa tersebut mencakup sejumlah insiden di Laut Merah, yang menjadi jalur keberangkatan sebagian besar ekspor minyak Arab Saudi sejak penutupan Selat Hormuz.

(bbn)

No more pages