Ia menambahkan bahwa bantuan benih tebu unggul yang tahan terhadap perubahan iklim ekstrim harus disalurkan secara tepat sasaran sebelum musim tanam berikutnya dimulai.
“Tanpa ada langkah mitigasi yang cepat dari pemerintah, krisis produksi gula nasional berisiko memicu lonjakan harga di tingkat konsumen,” ungkap dia.
Secara makro, AGI menilai ancaman El Niño memperbesar tantangan pemerintah dalam mencapai target swasembada gula serta berpotensi memicu lonjakan harga gula di pasar domestik.
“Untuk memitigasi risiko kelangkaan pasokan, Pemerintah perlu melakukan langkah optimalisasi infrastruktur irigasi, penggunaan varietas bibit unggul yang tahan kekeringan, hingga penyesuaian kuota impor gula mentah (raw sugar) untuk menjaga stabilitas cadangan gula nasional,” ungkapnya.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan Pemerintah akan memberikan insentif pada sektor yang berpotensi menghadapi dampak El Nino pada semester II-2026.
Airlangga mengatakan sektor pertanian menghadapi tantangan krusial karena perlu memindahkan air dari sungai ke daerah pertanian yang membutuhkan.
"Tentu kita harus melihat wilayah-wilayah dan kantong-kantongnya, dan tentu insentif yang diberikan sesuai K/L (Kementerian Lembaga) yang terkait," kata dia dalam konferensi pers Pertumbuhan Ekonomi Kuartal II-2026, di Jakarta, Rabu (5/8/2026).
Ia menambahkan pemerintah pada dasarnya akan memberikan insentif kepada sektor yang membutuhkan untuk menghadapi musim kemarau di paruh kedua 2026 ini.
"Pemerintah tentu akan menyiapkan anggaran yang diperlukan untuk itu," imbuh dia.
(ain)





























