Fenomena ini telah berlangsung sejak tahun lalu, tetapi kini melaju dengan kecepatan tertinggi dalam setidaknya 12 tahun terakhir, seiring para pedagang menanti keputusan Gedung Putih mengenai apakah akan memperluas tarif atas produk tembaga setengah jadi hingga ke logam mentah.
Belum ada indikasi kapan atau apakah Presiden AS Donald Trump berencana mengumumkan keputusan mengenai tarif, yang selama ini menjadi instrumen kebijakan utama dalam upayanya memperkuat rantai pasokan industri.
Presiden dijadwalkan bertemu dengan para eksekutif perusahaan tambang pada Jumat di Washington untuk menunjukkan upaya pemerintah dalam mendorong pengembangan dan pengolahan mineral strategis, serta berencana mengumumkan sejumlah kesepakatan dan nota kesepahaman.
Sementara itu, hampir setiap hari selama dua minggu terakhir, pasokan tembaga dalam jumlah antara 4.000 hingga 6.000 ton telah dikeluarkan dari jaringan gudang London Metal Exchange (LME).
Hal ini mempercepat penurunan bertahap yang telah memangkas lebih dari 40% cadangan tembaga—penopang kontrak tembaga paling likuid di dunia—sejak Mei.
Menurut para pedagang, operator gudang, dan produsen yang memahami arus perdagangan ini, sebagian besar logam tersebut—terutama dari fasilitas di Taiwan dan Korea Selatan—telah dikirim ke China. Arus keluar juga terpantau di gudang-gudang LME di AS, karena para pedagang memanfaatkan harga Comex yang lebih tinggi.
Mercuria Energy Group, Trafigura Group, Vitol Group, dan Hartree Partners LP semuanya telah menarik tembaga dari gudang-gudang LME dalam beberapa pekan terakhir. Informasi ini disampaikan oleh pihak-pihak yang mengetahui hal tersebut tetapi meminta agar identitas mereka tidak diungkap karena informasi bersifat rahasia.
Perwakilan dari Mercuria, Trafigura, Vitol, dan Hartree menolak memberikan komentar.
Lonjakan aktivitas ini terjadi karena pabrik peleburan (smelter) di China—negara sekaligus produsen dan konsumen tembaga terbesar di dunia—mengurangi produksi akibat terbatasnya pasokan bahan baku.
Akibatnya, pelanggan terpaksa lebih mengandalkan impor, sementara persediaan di Shanghai Futures Exchange (SHFE) juga kian menipis.
Di London, tanda-tanda awal terjadinya squeeze (kondisi kelangkaan pasokan yang memicu lonjakan harga) semakin nyata.
Selisih harga kontrak terdekat dibandingkan dengan kontrak berjangka tiga bulan mencapai US$153,75 per ton pada Kamis, melampaui level yang dicapai pada akhir Januari. Struktur harga tersebut, yang dikenal sebagai backwardation, menandakan adanya kelangkaan dalam jangka pendek.
"Meski permintaan saat ini tidak terlalu luar biasa, bisa saja terjadi perubahan signifikan di mana keterbatasan pasokan memicu penarikan stok ini," ujar Tom Mulqueen, ahli strategi logam di Citigroup Inc.
“Secara umum, stok di luar AS tidak terlalu besar, dan dalam kondisi seperti itu, dampaknya sedikit tercermin [ada harga.”
Mulqueen memperkirakan bahwa penarikan stok yang terus berlanjut dari gudang-gudang LME dalam beberapa bulan mendatang dapat memicu kenaikan harga menuju level US$15.000 per ton.
Hal ini sangat bergantung pada Trump. Jika ia memutuskan untuk tidak mengenakan pungutan atas tembaga olahan, permintaan dari AS akan berkurang, sehingga pasokan logam yang tersedia bagi China akan meningkat. Jika ia membiarkan ketidakpastian saat ini berlanjut, para pedagang memprediksi akan terjadi kenaikan harga dan kondisi pengetatan pasokan.
Namun, jika ia benar-benar mengumumkan penerapan tarif, lonjakan harga yang tajam hampir pasti terjadi, karena para pedagang kemungkinan besar akan mempercepat pengiriman ke AS sebelum aturan pungutan tersebut diberlakukan.
Tentu saja, konsumen tembaga di China cenderung menahan diri untuk tidak membeli saat harga naik terlalu tinggi, dan kenaikan harga pekan ini mungkin sudah membuat sebagian dari mereka ragu, sehingga dapat membatasi momentum impor.
Namun, kendala produksi tembaga China tetap dapat membuat pasar tetap ketat. Menurut laporan dari Shanghai Metals Market, pabrik peleburan China mengurangi produksi tembaga lebih dari perkiraan pada Juli. Mereka menghadapi kesulitan akibat kenaikan biaya bijih dan penurunan kadar, atau kandungan logam di dalamnya.
Pada saat yang sama, mereka menghadapi kekurangan limbah tembaga, yang merupakan bahan baku penting lainnya. Tembaga sekunder menyumbang seperempat produksi tembaga olahan China.
Industri daur ulang domestik sangat terganggu oleh pengawasan yang lebih ketat terhadap penerbitan faktur dalam beberapa bulan terakhir. Para pengumpul limbah, yang umumnya menjalankan usaha kecil dan informal, seringkali kehabisan kuota faktur dan tidak dapat menyelesaikan penjualan.
Selama 20 tahun terakhir, limbah tembaga telah memberikan elastisitas untuk memulihkan keseimbangan pasar. Menanggapi berkurangnya pasokan dari tambang, atau meningkatnya permintaan dari pengguna akhir, harga biasanya naik untuk menarik lebih banyak pemulihan limbah tembaga, kata Mulqueen dari Citi.
“Anda kehilangan sebagian elastisitas tersebut karena hambatan tambahan ini,” katanya.
(bbn)



























