Logo Bloomberg Technoz

Sejumlah sector saham menjadi pendukung utama IHSG pada perdagangan Sesi I siang hari ini. Saham–saham infrastruktur, saham properti, dan saham barang baku mencatatkan kenaikan paling tinggi, dengan masing-masing menguat 2,16%, 1,54% dan 1,11%.

Menguatnya IHSG merupakan efek secara langsung dari kenaikan sejumlah saham big caps. Berikut diantaranya berdasarkan data Bloomberg, Jumat (7/8/2026).

  1. PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) menyumbang 8,8 poin
  2. PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) menyumbang 5,56 poin
  3. PT Indosat Tbk (ISAT) menyumbang 3,77 poin
  4. PT Bumi Resources Tbk (BUMI) menyumbang 2,58 poin
  5. PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) menyumbang 2,11 poin
  6. PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) menyumbang 1,99 poin
  7. PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) menyumbang 1,89 poin
  8. PT VKTR Teknologi Mobilitas Tbk (VKTR) menyumbang 1,85 poin
  9. PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) menyumbang 1,64 poin
  10. PT DCI Indonesia Tbk (DCII) menyumbang 1,53 poin

Adapun saham–saham Indeks LQ45 lainnya juga jadi penopang penguatan IHSG, PT Indika Energy Tbk (INDY) yang menguat 6,27%, dan saham PT Indofood CBP Tbk (ICBP) yang mencetak kenaikan 3,02%.

Disusul oleh penguatan saham PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) melejit 2,23%, saham PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) juga menguat dengan kenaikan 2,08%, dan saham PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) melesat 2,06%.

Melansir Panin Sekuritas, IHSG ditutup menguat 0,71% di level 6.388, atau berbanding terbalik dengan Bursa AS seiring dengan investor yang masih mencermati terkait dengan rencana pembukaan Selat Hormuz, yang diharapkan dapat menurunkan harga minyak dan menurunkan ekspektasi terkait dengan inflasi.

Investor merespons tren positif nilai tukar rupiah yang sudah mulai relatif stabil <Rp18.000/US$ serta ekspektasi akan tercapainya negosiasi antara Amerika Serikat–Iran. 

Namun memang, “Patut dicermati, cadangan devisa Indonesia periode Juli 2026 tercatat turun menjadi US$145,3 miliar (dari yang sebelumnya: US$145,6 miliar) seiring dengan kebutuhan intervensi nilai tukar rupiah serta pelunasan utang SBN yang jatuh tempo,” sebut Panin Sekuritas, Jumat siang hari ini.

(fad)

No more pages