Logo Bloomberg Technoz

Padahal, total pendapatan operasional dari segmen infrastruktur secara keseluruhan mencapai Rp468,32 miliar. Artinya, pendapatan dari Bandara Dhoho Kediri relatif kecil setelah dikurangi konstruksi pengerjaan ruas tol.

Padahal Bandara Dhoho Kediri mengambil porsi hampir seperlima dari keseluruhan aset GGRM. Adapun, total aset GGRM sampai akhir Juni 2026 mencapai Rp77,78 triliun.

Hanya saja, pendapatan operasional dari lini bisnis bandara yang dioperasikan lengan investasi GGRM, PT Surya Dhoho Investama itu cendrung terbatas.

GGRM turut mencatat beban amortisasi hak konsesi Bandara Dhoho sebesar Rp124,17 miliar pada semester I-2026.

Di sisi lain, PT Surya Dhoho Investama turut mengakui liabilitas jangka panjang sekitar Rp590,35 miliar dari operasi Bandara Dhoho tersebut. Liabilitas itu timbul dari kewajiban kontrak peningkatan kemampuan dalam perjanjian konsesi jasa dengan PT Angkasa Pura I.

Bisnis Inti

Kendati demikian, GGRM mencetak laba yang impresif pada semester I-2026 dari bisnis inti rokok perseroan.

GGRM mencetak laba Rp2,97 triliun pada semester I-2026, naik 24,4 kali dari periode yang sama tahun lalu sekitar Rp117,16 miliar.

Torehan laba itu ditopang dari upaya efisiensi yang didorong manajemen dengan memangkas biaya pokok pendapatan sepanjang paruh pertama tahun ini.

GGRM memangkas biaya pokok pendapatan ke level Rp35,19 triliun, atau turun 13,28% dibandingkan dengan posisi beban tahun lalu sekitar Rp40,58 triliun. Sementara itu, pendapatan GGRM cenderung susut ke level Rp41,17 triliun.

Hasilnya, GGRM mencetak laba bruto sekitar Rp5,98 triliun pada semester I-2026. Laba bruto itu mengindikasikan margin 14,5%, lebih tebal dari posisi tahun lalu sekitar 8,54%.

(naw)

No more pages