Sebagian besar perusahaan, dia menambahkan, tetap mampu mempertahankan margin profitabilitas yang baik dengan pertumbuhan pendapatan yang signikan.
“Ke depan, kami memperkirakan pasar saham Indonesia (IHSG) berpotensi pulih pada Semester II-2026 dan bergerak menuju kisaran 7.000–7.500,” kata dia.
Saat itu, valuasi pasar IHSG berada pada foward price to earning ratio (PER) sekitar 9 kali, didukung dividend yield 6% sampai 8% serta return on equity (RoE) di atas 10 kali.
Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia Fakhrul Fulvian menerangkan pertumbuhan laba emiten LQ45 itu sejalan degan pertumbuhan ekonomi nominal kendati beberapa indikator ekonomi riil cenderung melambat.
Pada triwulan II-2026, nominal GDP Indonesia tumbuh sekitar 10,16% year-on-year, yang merupakan laju pertumbuhan tertinggi sejak awal 2023.
“Ini memberikan ruang bagi pertumbuhan pendapatan dan laba korporasi, meskipun pertumbuhan ekonomi riil terlihat lebih moderat,” kata Fakhrul.
Selain itu, Fakhrul menambahkan, struktur emiten LQ45 cenderung berbeda dengan struktur ekonomi Indonesia.
Menurut dia, emiten besar memiliki posisi pasar yang kuat, efisien serta memiliki eksposur pada sektor yang masih bertumbuh di antaranya perbankan, telekomunikasi, infrastruktur dan sebagian komoditas.
“Dalam kondisi ekonomi yang menantang, mereka justru sering menjadi pihak yang paling cepat melakukan efisiensi maupun menyesuaikan strategi bisnis,” kata dia.
Sebagian besar emiten LQ45 mencetak laba berlipat sepanjang paruh pertama tahun ini. Misalkan, PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) mencatat laba bersih naik 920% secara tahunan, ditopang kenaikan pendapatan 59,3%.
Selanjutnya, PT Indika Energy Tbk (INDY) dan PT Vale Indonesia Tbk (INCO) masing-masing mencetak laba 335% dan 313% secara tahunan.
Emiten lain yang ikut mencetak laba impresif di antaranya PT Bumi Resources Tbk (BUMI) dan PT Essa Industri Indonesia Tbk (ESSA). BUMI dan ESSA masing-masing mencatat pertumbuhan laba 203,95% dan 111,7%.
Dari kelompok perbankan, PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN), PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) dan PT Ban Central Asia Tbk (BBCA) mencetak laba masing-masing 41%, 24% dan 2%.
Pertumbuhan Melambat
Tim riset Samuel Sekuritas (SSI) menilai perekonomian Indonesia cenderung melambat secara kuartalan. Setelah tumbuh 5,61% pada kuartal I-2026, ekonomi Indonesia mencatat pertumbuhan 5,29% secara tahunan pada kuartal II-2026.
Angka ini masih lebih tinggi dibandingkan konsensus pasar sebesar 5,1% dan juga melampaui proyeksi dasar SSI sebesar 5,20% (estimasi batas atas: 5,40%). Pertumbuhan PDB pada semester I-2026 mencapai 5,45% secara keseluruhan.
“Perlambatan secara kuartalan menunjukkan bahwa momentum pertumbuhan mulai mengalami normalisasi di tengah ketidakpastian eksternal, kenaikan biaya impor dan kondisi keuangan yang lebih ketat,” dikutip dari riset SSI.
Dari sisi pengeluaran, perlambatan terutama disebabkan karena konsumsi rumah tangga menjadi 5,06% dari 5,52%, serta konsumsi pemerintah yang turun menjadi 15,97% dari 21,81%.
Sementara itu, pembentukan modal tetap bruto meningkat menjadi 6,87% dari sebelumnya 5,96%. Kendati demikian, kontribusi investasi terhadap pertumbuhan hanya 2,06 poin persentase, masih lebih rendah dibandingkan kontribusi konsumsi rumah tangga sebesar 2,67 poin persentase.
Ekspor tumbuh 4,13%, sedangkan impor meningkat jauh lebih cepat sebesar 8,82%, yang mencerminkan permintaan domestik yang masih kuat namun juga menunjukkan meningkatnya tekanan dari sisi ekspor neto terhadap pertumbuhan ekonomi.
Dari sisi produksi, pertumbuhan masih berlangsung secara tidak merata. Sektor manufaktur melambat menjadi 4,52% dari 5,04% pada kuartal I-2026, sementara sektor informasi dan komunikasi serta akomodasi dan makanan-minuman juga kehilangan momentum.
Di sisi lain, konstruksi tumbuh lebih cepat menjadi 6,68%, perdagangan tetap solid di 6,39%, dan sektor listrik dan gas mencatat pertumbuhan 10,81%.
Sementara itu, sektor pertambangan mengalami kontraksi sebesar 1,64%. Kinerja yang lebih lemah pada sektor manufaktur dan pertambangan menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi masih bergantung pada sektor jasa tertentu, konstruksi, dan investasi, alih-alih ditopang oleh perbaikan yang merata di seluruh sektor ekonomi.
“SSI mempertahankan proyeksi pertumbuhan PDB Indonesia tahun penuh 2026 sebesar 5,35%. Dengan pertumbuhan semester I 2026 sebesar 5,45%, proyeksi tersebut mengindikasikan adanya moderasi menuju kisaran 5,2–5,3% pada semester II 2026,” dikutip dari riset.
(naw)































