Logo Bloomberg Technoz

Bagi pasar obligasi domestik, ini menjadi kabar baik, meski pergerakan yield hari ini kemungkinan masih bersifat sentiment-driven, bukan lantaran adanya perubahan yang bersifat fundamental. 

Lionel Priyadi, Fixed Income & Macro Strategist Mega Capital Sekuritas, menilai fundamental makroekonomi Indonesia saat ini masih menahan aset-aset Indonesia, termasuk rupiah dan SUN. 

Ia memperkirakan yield SUN tenor 10 tahun masih akan tertahan di 7,3% hingga 7,35%, sementara rupiah bergerak terbatas di Rp17.950 hingga Rp18.050/US$ hari ini. 

Terlepas dari meredanya ketegangan geopolitik dan prospek kembali terbukanya Selat Hormuz, Indonesia masih punya sejumlah tantangan dari sisi domestik. 

Pertumbuhan ekonomi domestik pada kuartal kedua tahun ini yang akan diumumkan hari ini diramal melambat menjadi 5,1% setelah sempat menguat pada kuartal pertama di 5,61%. 

Di samping itu, data perdagangan luar negeri masih tercatat defisit. Meski membaik dengan defisit menjadi US$450 juta dari posisi sebelumnya US$1,61 miliar, defisit neraca migas justru tercatat melebar hingga mencapai US$15,77 miliar.

Meredanya tekanan eksternal memberi sedikit tenaga bagi penguatan rupiah dan pasar obligasi hari ini, namun kerentanan fundamental ekonomi tetap membayangi pergerakan rupiah yang diperkirakan masih akan tertahan di level Rp18.000-an/US$. 

(dsp)

No more pages