“Tahun ini kami merencanakan pengembangan usaha yang cukup besar, maka kami mengkaji beberapa kemungkinan corporate action, termsuk rights issue,” kata Kevin kepada Bloomberg Technoz, akhir April 2026.
Di sisi lain, hubungan BULL dengan Grup Sinar Mas telah terjalin terbilang lama. Grup Sinar Mas melalui Bank Sinarmas telah mendukung pembiayaan BULL sejak 2018 dan membuka peluang kolaborasi lebih lanjut.
Di saat yang sama, BULL juga tengah mempercepat transformasi bisnis menuju segmen LNG. Dalam keterbukaan informasi pada Maret lalu, perseroan mengumumkan penambahan kapal tanker LNG kedua dan menegaskan strategi memperbesar bisnis LNG melalui pertumbuhan organik maupun non organik.
Adapun, transportasi LNG menjadi salah satu dari empat pilar transformasi bisnis BULL, bersama bisnis tanker minyak, FPSO/FSO, serta Floating Storage and Regasification Unit (FSRU).
Perseroan juga menyatakan tengah membangun kapabilitas untuk menangkap peluang dari pertumbuhan infrastruktur LNG di dalam dan luar negeri.
Di sisi lain, Grup Sinar Mas masih menunggu penyelesaian proses akuisisi Hyundai LNG Shipping di Korea Selatan.
Transaksi tersebut menjadi perhatian pasar karena Hyundai LNG Shipping merupakan salah satu operator kapal LNG terbesar di kawasan dengan armada yang jauh lebih besar dibandingkan BULL.
Rangkaian perkembangan tersebut memunculkan spekulasi bahwa rights issue BULL dapat menjadi kendaraan untuk memasukkan aset pelayaran LNG milik Grup Sinar Mas ke pasar lebih luas.
Hingga saat ini, belum ada keterbukaan informasi dari perseroan maupun Grup Sinar Mas yang mengonfirmasi adanya rencana tersebut.
Sementara itu, UOB Kay Hian dalam risetnya juga menyinggung spekulasi tersebut.
Analis UOB Kay Hian menyebut penyelesaian akuisisi Hyundai LNG Shipping oleh Grup Sinar Mas dapat menjadi katalis bagi BULL.
Berdasarkan data armada yang tersedia untuk publik, Hyundai LNG Shipping memiliki kapasitas sekitar 1,43 juta deadweight ton (DWT), sekitar 2,4 kali lebih besar dibandingkan kapasitas armada BULL.
Dengan estimasi nilai Hyundai LNG Shipping sekitar US$2 miliar, analis menilai BULL akan menghadapi keterbatasan neraca apabila mengakuisisi aset tersebut secara langsung.
Karena itu, aksi korporasi dinilai menjadi salah satu skenario yang masuk akal, meski ditegaskan bahwa hal tersebut merupakan perkiraan analis dan belum ada skema resmi yang diumumkan.
***Dengan asistensi Nyoman Ary Wahyudi***
(cpa/naw)































