Logo Bloomberg Technoz

Konflik yang telah berlangsung selama lima bulan kembali memanas bulan ini setelah gencatan senjata pada Juni runtuh. Hingga kini, belum terlihat adanya jalan diplomatik yang berpeluang mengakhiri konflik dalam waktu dekat.

Kepercayaan antara kedua pihak tampaknya berada di titik terendah. Para pemimpin Iran turut menyuarakan keluhan serupa dengan menuding AS mengingkari komitmen dan tidak dapat dipercaya. Di sisi lain, Trump berulang kali mengancam akan meningkatkan eskalasi, meski menghadapi keterbatasan akibat menipisnya persediaan senjata AS.

Trump mengatakan Wakil Presiden JD Vance, utusan presiden Steve Witkoff, dan menantunya Jared Kushner masih terus berkomunikasi dengan para perantara. Namun, ia mengeluhkan bahwa pihak Iran "selalu ingin berbicara, tetapi terlalu sering mengingkari janji."

"Yang mereka lakukan hanya membuat saya marah," ujar Trump.

Amerika Serikat dan Iran terus saling melancarkan serangan udara dalam beberapa hari terakhir. Namun, tidak ada serangan baru dari pihak AS yang dilakukan semalam.

Menurut sejumlah sumber yang mengetahui masalah tersebut, Trump berulang kali mengungkapkan rasa frustrasinya secara tertutup terhadap perkembangan konflik. Trump dan para penasihatnya sebelumnya memperkirakan perang yang dilancarkan bersama Israel pada akhir Februari hanya akan berlangsung beberapa pekan.

Namun, konflik tersebut justru berubah menjadi perang berkepanjangan yang sulit diselesaikan dan mengguncang pasar energi global. Gangguan tersebut menyebabkan harga bensin di Amerika Serikat meningkat, sehingga menimbulkan risiko politik bagi Partai Republik menjelang pemilu paruh waktu pada November mendatang.

(bbn)

No more pages