Nvidia juga sedang melakukan pembicaraan untuk membiayai pembelian chipnya oleh OpenAI senilai US$350 miliar untuk proyek di AS, menurut seorang sumber yang mengetahui masalah ini.
Hari Senin, perusahaan tersebut menyatakan telah melakukan investasi “signifikan” di Safe Superintelligence Inc., perusahaan startup AI yang didirikan bersama oleh mantan chief scientist OpenAI, Ilya Sutskever. Sumber-sumber yang mengetahui situasi tersebut mengatakan bahwa Nvidia telah berkomitmen untuk menyuntikkan dana US$5 miliar.
“Sekalipun investasi dan kemitraan Nvidia memperkuat keyakinan terhadap pengembangan AI jangka panjang, para investor tetap khawatir mengenai pembiayaan sirkular,” kata Gary Tan, manajer portofolio di Allspring Global Investments. “Modal semakin banyak digunakan untuk mendanai pelanggan AI di masa depan dan penyebaran infrastruktur.”
“Nvidia ingin memastikan bahwa pembangunan infrastruktur ini terus berlanjut dengan kecepatan ini dan merupakan risiko besar bagi Nvidia. Jika proses ini terhenti, bahkan hanya selama enam bulan, hal itu tidak akan berjalan dengan baik bagi mereka,” kata analis Bloomberg Intelligence, Mandeep Singh, di Bloomberg Television.
Langkah-langkah terbaru Nvidia semakin memperkuat gelombang kesepakatan yang telah dilakukannya di seluruh ekosistem selama beberapa tahun terakhir. Produsen prosesor AI yang mendominasi pasar ini telah mengambil saham di perusahaan pengembang seperti OpenAI dan sesama produsen chip seperti Marvell Technology Inc., dalam upaya mendorong pertumbuhan di seluruh industri.
Para rival di industri ini pun memilih skema serupa. Google, yang memiliki produk AI termasuk Gemini, setuju untuk menjamin pembayaran sewa di lima lokasi pusat data milik Anthropic PBC, sehingga membantu pesaing OpenAI tersebut memperoleh pinjaman US$35 miliar.
Baca Juga: Kekhawatiran Bubble AI yang Mirip Era Dot.com Kian Membayangi
Transaksi semacam ini telah membuat banyak perusahaan AI semakin saling terhubung, yang berpotensi membuat sektor ini rentan terhadap guncangan sistemik. Salah satu kekhawatiran utama adalah meningkatnya tingkat utang di industri ini, di mana banyak perusahaan AI meningkatkan pinjaman untuk mendanai proyek pusat data dan chip mereka.
Sebagai bagian dari kesepakatan Nvidia dengan SK Group, kedua perusahaan akan bekerja sama untuk membangun pusat data AI dengan kapasitas lebih dari 2 gigawatt di Semenanjung Korea. Jumlah tersebut kira-kira setara dengan energi yang dibutuhkan untuk menyalakan listrik di 1,5 juta rumah. Pabrik AI pertama ini, yang dibangun oleh SK Telecom Co., akan mulai beroperasi tahun depan.
“Ini adalah masa keemasan bagi Korea,. Bisnis semikonduktor mereka sedang berkembang pesat. Bisnis industri mereka juga sedang berkembang pesat. Anda tahu, ini adalah negara yang memiliki kemampuan untuk membantu dunia membangun infrastruktur AI,” klaim CEO Nvidia, Jensen Huang, dalam wawancara dengan Bloomberg Television.
Sebuah kesepakatan yang sedang dibahas dengan OpenAI akan membantu pencipta ChatGPT tersebut menyewa pusat data US$500 miliar dengan kapasitas 10 gigawatt (GW) yang sedang dikembangkan oleh SB Energy—anak perusahaan SoftBank Group Corp.—di Ohio, demikian menurut beberapa sumber yang mengetahui masalah ini.
Nvidia mungkin akan memberikan jaminan US$250 miliar kepada laboratorium AI tersebut dan sedang membahas pembiayaan pembelian OpenAI senilai US$350 miliar, kata salah satu sumber tersebut. Negosiasi masih berada pada tahap awal dan dapat gagal atau syarat pembiayaannya bisa berubah, kata sumber-sumber tersebut. The Wall Street Journal sebelumnya telah melaporkan pembicaraan tersebut.
“Jaminan Nvidia atas lebih banyak utang pusat data OpenAI memperdalam praktik pembiayaan vendor yang sudah menjadi sorotan,” kata Billy Leung, seorang ahli strategi investasi di Global X Management. “Hal ini tidak hanya menjadi pengingat akan tekanan pendanaan dalam pengembangan AI, tetapi juga merupakan sinyal permintaan.”
Apabila terwujud, semua dukungan dari Nvidia kepada OpenAI dapat meredakan kekhawatiran para kreditor terkait pemberian pembiayaan kepada bisnis yang tidak terdaftar di bursa dan belum menguntungkan, demi memenuhi kebutuhan komputasi pengembang ChatGPT yang terus meningkat.
(red)
































