Konfigurasi kilang Indonesia berfokus pada unit hydrocracking dan fluid catalytic cracking (FCC) untuk menghasilkan solar dan bensin.
Dari sisi hulu, Indonesia hanya memproduksi minyak sekitar 600.000 bph dengan cadangan sekitar 2,3 miliar barel, sehingga masih berstatus net importir minyak.
Cadangan operasional minyak nasional juga relatif terbatas, sekitar 20—28 hari, dan pemerintah masih membangun cadangan penyangga energi (CPE).
Secara geopolitik, Indonesia mempertahankan posisi nonblok dengan berupaya menekan biaya impor minyak mentah sambil menjaga hubungan dagang dengan negara Barat maupun Asean.
Berikut perbandingan kilang di negara-negara penghasil minyak besar lainnya:
Rusia
Yayan mencatat Rusia memiliki kilang minyak dengan kapasitas produksi sekitar 5,5 juta—6,8 juta bph, menjadikannya salah satu dari tiga negara dengan kapasitas pengolahan minyak terbesar di dunia.
Dia menyatakan kilang minyak Rusia memiliki NCI sekitar 9,5 dengan fokus pada deep coking dan hydrocracking untuk meningkatkan nilai tambah minyak bakar berat (heavy fuel) menjadi produk bernilai lebih tinggi.
Produksi minyak Rusia tercatat mencapai sekitar 9,9 juta bph dengan cadangan sekitar 80 miliar barel. Yayan menilai kondisi tersebut membuat Rusia menjadi salah satu eksportir minyak terbesar dunia.
Dia juga mencatat Rusia mengandalkan kapasitas produksi yang besar sebagai penyangga pasokan, namun memiliki keterbatasan penyimpanan komersial dan menghadapi hambatan ekspor gegara sanksi Barat.
Dari sisi geopolitik, lebih dari 80% ekspor minyak Rusia telah dialihkan ke China, India, dan Asia Tenggara di bawah rezim pembatasan harga atau price cap dan sanksi internasional.
Arab Saudi
Yayan mencatat kilang minyak di Arab Saudi memiliki kapasitas produksu sekitar 3,3 juta—3,8 juta bph dengan fasilitas yang disebut highly modern integrated, atau telah terintegrasi dengan kompleks petrokimia modern.
Dia mengungkapkan NCI kilang tersebut sekitar 10,5, didukung kawasan industri berskala besar seperti Jazan, Yanbu, dan Jubail.
Selain itu, produksi minyak Arab Saudi tercatat sekitar 9,6 juta bph dengan cadangan mencapai 267 miliar barel. Besaran tersebut, kata Yayan, tercatat terbesar dibandingkan AS hingga Rusia.
Arab Saudi juga memiliki kapasitas penyimpanan minyak domestik maupun lepas pantai yang besar, termasuk fasilitas di Sumed dan Okinawa, serta memiliki kapasitas produksi cadangan sekitar 2—3 juta bph yang dapat dimanfaatkan ketika terjadi gangguan pasokan global.
Secara geopolitik, Arab Saudi diposisikan sebagai poros strategis OPEC+, yang menyeimbangkan hubungan keamanan dengan Amerika Serikat sekaligus kerja sama produksi minyak bersama Rusia dan perdagangan energi dengan China.
Amerika Serikat
Lebih lanjut, Yayan mencatat Amerika Serikat memiliki kapasitas kilang terbesar di dunia sekitar 18,1 juta—18,5 juta bph.
Dia mengungkapkan kilang minyak AS memiliki NCI sekitar 12,2, sekaligus kapasitas heavy coking dan hydrodesulfurization (HDS) paling besar secara global.
Yayan mencatat produksi minyak mentah AS mencapai sekitar 13,6 juta bph dengan cadangan sekitar 48 miliar barel, menjadikannya produsen minyak terbesar dunia.
Dari sisi ketahanan energi, AS memiliki Strategic Petroleum Reserve (SPR) atau cadangan penyangga energi serta stok komersial lebih dari 700 juta barel atau setara pasokan lebih dari 90 hari.
Dalam aspek geopolitik, Yayan menyebut AS sebagai pemimpin penerapan sanksi terhadap Rusia; melalui batasan harga atau price cap G7, pembatasan layanan maritim, serta pembatasan sistem pembayaran SWIFT.
(azr/wdh)































