Transaksi Keuangan
Kedua, kata Yayan, risiko yang berasal dari sisi transaksi keuangan. Dia menjelaskan pembayaran kepada Rusia tidak dapat dilakukan melalui jaringan Asosiasi Jasa Keuangan Antarbank Sedunia (SWIFT) maupun sistem kliring dolar AS karena berpotensi memicu pembekuan transaksi.
Sebagai alternatif, penyelesaian pembayaran harus menggunakan mekanisme nondolar seperti local currency settlement (LCS) melalui jalur kliring rupiah-renminbi atau rupiah-dirham Uni Emirat Arab (UEA).
“Transaksi harus dilakukan melalui mekanisme pembayaran non-US$, seperti perjanjian penyelesaian dalam mata uang lokal,” tegas Yayan.
Ketiga, lanjut Yayan, Indonesia bakal sangat rentan apabila terjadi gangguan pasokan jike bergantung pada minyak Rusia.
Dengan begitu, dia menyarankan agar minyak ESPO yang diperoleh dengan harga diskon dimanfaatkan untuk mengisi cadangan penyangga energi (CPE) yang tengah dirancang pemerintah.
“Cadangan operasional Indonesia yang disimpan Pertamina sebesar 20—28 hari, tidak memadai saat terjadi guncangan pasokan regional. Memanfaatkan minyak mentah ESPO dengan harga diskon untuk mengisi infrastruktur penyimpanan untuk mempercepat pembentukan CPE,” ungkap dia.
Dilaporkan Bloomberg Technoz sebelumnya, minyak mentah asal Rusia jenis ESPO terdeteksi telah memasuki Indonesia melalui Pelabuhan Lawe-Lawe usai diangkut melalui kapal tanker Sierra berbendera Kamerun.
Berdasarkan data Big Trade Data yang direkapitulasi Bloomberg, sebanyak 770.000 barel minyak telah dikirim ke pelabuhan di Kalimantan Timur tersebut pada 29 Juni 2026, dengan nilai sekitar US$75 juta.
Untuk diketahui, Pelabuhan Lawe-Lawe merupakan salah satu pintu masuk crude ke Kilang Balikpapan. PT Pertamina Patra Niaga (PPN) tercatat memiliki dua tangki penyimpanan minyak mentah di terminal Lawe-Lawe dengan kapasitas masing-masing 1 juta barel.
Selain itu, PPN juga memiliki fasilitas single point mooring (SPM) dengan kapasitas 320.000 dead weight ton (dwt). Fasilitas SPM tersebut tersambung dengan pipa ke pelabuhan Lawe-Lawe dan dari pelabuhan tersebut menuju Kilang Balikpapan.
Berdasarkan pantauan data pelayaran Marine Traffic, tanker Sierra telah meninggalkan Lawe-Lawe pada 30 Juni 2026. Saat ini tanker tersebut sudah berada kembali ke area labuh jangkar di Pelabuhan Vladivostok, Rusia.
Kapal pengangkut minyak mentah tersebut tercatat terkena sanksi oleh sejumlah negara, antara lain, di antaranya: Inggris, Uni Eropa (UE), Kanada, Australia, Ukraina, hingga Selandia Baru.
Dalam perkembangannya, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengonfirmasi Indonesia sudah memulai impor minyak mentah Rusia tahap pertama dengan harga yang diklaim lebih 'baik' dibandingkan dengan acuan Brent.
Langkah ini, kata Bahlil, diambil sebagai strategi pemerintah untuk memperkuat cadangan bahan bakar minyak (BBM) nasional di tengah dinamika energi global.
Bahlil menegaskan pelaksanaan impor minyak Rusia tahap awal ini dilakukan secara langsung di bawah koordinasi pemerintah melalui Balai Besar Pengujian Minyak dan Gas Bumi (Lemigas).
"Tahap pertama sudah, dilakukan oleh Pemerintah Negara Kesatuan Republik Indonesia dan diperintahkan lewat Lemigas," ujar Bahlil saat ditemui awak media usai agenda Global Hydrogen Ecosystem Summit & Exhibition (GHES) 2026, Selasa (21/7/2026).
Sebelum itu, Wakil Menteri ESDM Yuliot Tanjung menyatakan impor minyak mentah Rusia yang dilakukan Lemigas bakal disimpan pada tangki penyimpanan atau storage tank untuk dijadikan CPE.
“Untuk pengadaan minyak itu kan ada Indonesia Blend. Indonesia Blend itu kan minyak itu kan melalui supplier yang ada. Jadi supplier yang ada yang kita terima dalam negeri adalah dalam bentuk blending, Nusantara Blending,” kata Yuliot kepada awak media, di Kompleks DPR, Kamis (16/7/2026).
(azr/wdh)
































