Logo Bloomberg Technoz

"IHSG masih berpotensi melemah untuk menguji level 6.000-6.100, terutama jika didukung sejumlah sentimen negatif termasuk konflik AS-Iran yang memanas, harga minyak yang kembali menguat, serta tarif tambahan dari AS," kata Phintraco Sekuritas dalam risetnya pada Selasa (28/7/2027).

Sementara itu, Analis sekaligus Branch Manager Panin Sekuritas Pondok Indah, Elandry Pratama memperkirakan IHSG masih bergerak sideways dengan kecenderungan volatil seiring pelaku pasar menunggu sejumlah katalis utama.

"Dari eksternal, perhatian utama tertuju pada hasil pertemuan The Fed, rilis data ekonomi AS, serta perkembangan kebijakan tarif dagang yang akan memengaruhi market dan capital flow global," ujar Elandry.

Dari domestik, perhatian investor mengarah pada perkembangan pengunduran diri Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo. Menurut Elandry, isu tersebut berpotensi menjadi sentimen jangka pendek karena berkaitan dengan persepsi investor terhadap kredibilitas dan kesinambungan kebijakan moneter.

"Selama proses transisi berjalan baik dan arah kebijakan tetap konsisten, dampaknya terhadap fundamental pasar diperkirakan terbatas. Namun dalam jangka pendek, sentimen ini dapat meningkatkan volatility karena pelaku pasar cenderung mengambil sikap wait and see," jelasnya.

Selain itu, Elandry menyebut musim rilis kinerja emiten semester I 2026 serta pergerakan dana asing akan menjadi faktor yang menentukan arah indeks.

"Apabila hasil kinerja emiten relatif solid dan foreign flow kembali mencatatkan net buy, IHSG masih memiliki peluang untuk menguat secara bertahap. Sebaliknya, jika ketidakpastian global dan domestik meningkat, ruang penguatan indeks diperkirakan masih terbatas dengan volatilitas yang tetap tinggi," tutur dia.

(cpa/naw)

No more pages