Wabah ini terjadi di banyak provinsi di bagian timur Kongo yang sama dengan wilayah terdampak krisis Ebola pada 2018–2020, yang pada akhirnya menginfeksi 3.470 orang dan menewaskan 2.287 orang. Korban sebanyak itu terjadi meskipun saat itu ada respons internasional dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya serta penggunaan vaksin yang efektif terhadap virus Ebola strain Zaire.
Namun, vaksin tersebut tidak efektif untuk melawan virus Bundibugyo, jenis virus yang menjadi penyebab wabah saat ini, sehingga hingga kini belum tersedia vaksin yang ampuh untuk menanganinya.
Sekitar 80% kasus baru kini terdeteksi di luar daftar kontak yang telah diketahui sebelumnya. Hal ini menegaskan besarnya tantangan yang dihadapi tenaga kesehatan dalam melacak rantai penularan dan mengendalikan wabah, menurut Physicians for Human Rights.
Tantangan tersebut terjadi di berbagai rumah sakit dan klinik di Provinsi Ituri, yang menjadi pusat penyebaran wabah. Seorang dokter di Bunia, ibu kota Provinsi Ituri, mengatakan kepada organisasi kemanusiaan itu bahwa pada awalnya ia mengira penyakit yang dideritanya disebabkan oleh hal lain karena "tidak ada yang tahu apa yang sebenarnya saya alami."
Ketika akhirnya dipastikan sebagai Ebola empat hari kemudian, ia mengatakan bahwa dirinya telah lebih dulu menularkan virus tersebut kepada istrinya.
Serangan terhadap fasilitas kesehatan oleh kelompok bersenjata—serta oleh anggota keluarga dan masyarakat yang frustrasi akibat terbatasnya layanan kesehatan dasar, ditambah maraknya misinformasi dan rendahnya tingkat kepercayaan—semakin menghambat upaya untuk mengidentifikasi kasus, melacak kontak erat, serta memastikan masyarakat merasa aman untuk mencari pengobatan, menurut Physicians for Human Rights.
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada awal bulan ini mengerahkan pos penjaga perdamaian bergerak di dekat Nyakunde setelah sebuah pusat perawatan Ebola dirusak oleh pelaku vandalisme. Langkah tersebut memungkinkan tenaga kesehatan tetap menjalankan operasional di kota Ituri, tempat 114 kasus telah dilaporkan.
Menurut PBB, sedikitnya 12 fasilitas kesehatan telah menjadi sasaran serangan sejak wabah ini mulai merebak.
(bbn)





























