Reaksi negatif itu, kata Liza, dapat tercermin dari pelemahan rupiah, kenaikan imbal hasil surat berharga negara (SBN), meningkatnya risk premium, hingga tekanan di pasar saham.
“Dan munculnya kekhawatiran bahwa keputusan suku bunga atau aksi stabilisasi rupiah ke depan lebih banyak didorong oleh tekanan politik dari pada pertimbangan moneter,” kata Liza.
Setali tiga uang, Branch Manager Panin Sekuritas Elandry Pratama menilai pasar kini mencermati arah kebijakan moneter selepas mundurnya Perry Warjiyo.
"Dalam jangka pendek, IHSG cenderung tertekan akibat meningkatnya sentimen risk-off, rupiah berpotensi melemah karena investor menunggu kepastian kebijakan, sementara pasar obligasi bisa mengalami kenaikan yield apabila terjadi aksi jual dari investor asing," kata Elandry.
Meski demikian, reaksi negatif pasar diperkirakan dapat mereda apabila pemerintah segera mengumumkan pengganti Perry yang memiliki kredibilitas kuat dan menegaskan bahwa arah kebijakan moneter tetap berlanjut secara konsisten.
"Yang paling menentukan bukan semata pergantian figur, melainkan seberapa cepat pasar memperoleh kepastian dan tetap percaya terhadap kredibilitas kebijakan Bank Indonesia," ujarnya.
Lantai Bursa
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan hari ini, Senin (27/7/2026), dibuka melemah.
Hingga pukul 09:05 WIB, Indeks kehilangan 33,61 poin (0,54%) ke level 6.162 tersulut sentimen keputusan pengunduran diri Perry Warjiyo dari posisi Gubernur Bank Indonesia (BI).
Berdasarkan data perdagangan Bursa Efek Indonesia, volume perdagangan tercatat 2,16 miliar saham dengan nilai transaksi Rp1,22 triliun. Adapun frekuensi yang terjadi sebanyak 152.412 kali.
Sebanyak 157 saham menguat dan 354 saham melemah. Sementara 186 saham tidak bergerak.
Belakangan, pemerintah menunjuk Deputi Gubernur Senior Destry Damayanti sebagai Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur Bank Indonesia, guna memastikan kesinambungan pelaksanaan kebijakan moneter serta menjaga stabilitas sistem keuangan selama proses penunjukan gubernur definitif berlangsung.
“Kami memperkirakan pergantian kepemimpinan ini dapat memicu ketidakpastian jangka pendek di pasar,” kata Head of Research RHB Sekuritas Andrey Wijaya.
Di sisi lain, Mirae Asset Sekuritas memperkirakan sentimen pergantian pucuk pimpinan BI juga dapat membebani pasar saham, terutama saham-saham perbankan berkapitalisasi besar seperti BBCA, BMRI, dan BBRI.
“Rupiah kemungkinan akan merespons negatif kabar ini, dan menurut kami BI mungkin perlu meningkatkan intervensi di pasar," tulis Mirae Asset Sekuritas dalam risetnya.
Selain itu, imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun diproyeksikan meningkat sehingga turut mendorong kenaikan tingkat suku bunga bebas risiko (risk-free rate).
Meski demikian, Bank Indonesia diperkirakan masih akan menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 6%.
Namun, apabila arah kebijakan moneter ke depan lebih berorientasi pada pertumbuhan ekonomi, kondisi tersebut dinilai berpotensi meningkatkan risiko terhadap stabilitas pasar keuangan.
(fik/naw)



























