Perkembangan di Timur Tengah menjadi pemicu kenaikan harga sang logam mulia. Setelah 13 hari menyerang Iran tanpa putus, Amerika Serikat (AS) tidak lagi melancarkan pukulan sejak Jumat (24/7/2026) lalu. Tidak ada penjelasan apapun dari Washington soal ini.
Di lain pihak, Iran pun terlihat menahan diri. Teheran tidak melakukan aksi militer setelah ada pembicaraan dengan Oman terkait jalur pelayaran di Selat Hormuz. Pembicaraan ini membuka peluang adanya rute alternatif untuk pengiriman minyak.
“Resolusi konflik tentu adalah perkembangan yang positif. Tidak adanya serangan baru membuka kemungkinan bahwa AS dan Iran akan masuk ke meja perundingan,” kata Shoji Shirakawa, Chief Global Strategist di Tokai Tokyo Intelligence Lab, seperti dikutip dari Bloomberg News.
Harga minyak pun anjlok akibat penurunan tensi di Timur Tengah. Akhir pekan lalu, harga minyak jenis brent ambruk lebih dari 2%.
Jika situasi terus kondusif, maka lonjakan harga minyak bisa diredam. Dengan begitu, kekhawatiran soal ancaman inflasi tinggi bisa ikut mereda.
Situasi ini tentu bisa membuat bank sentral di berbagai negara bernapas lega. Tanpa ‘hantu’ inflasi tinggi, kebutuhan untuk menaikkan suku bunga acuan secara agresif menjadi tidak terlalu mendesak.
Emas adalah aset yang tidak memberikan imbal hasil (non-yielding asset). Memegang emas menjadi kurang menguntungkan dalam iklim suku bunga tinggi.
(aji)































