Akan tetapi, permintaan baja nirkarat di Uni Eropa (UE) tercatat masih melemah.
Permintaan Baterai EV
Meskipun industri baja nirkarat menjadi penopang utama permintaan nikel, BMI mencermati tergerusnya permintaan nikel untuk baterai kendaraan listrik atau electric vehicle (EV) yakni nickel manganese cobalt (NMC) gegara tingginya permintaan baterai lithium iron phosphate (LFP).
BMI mencatat sekitar 81,2% baterai kendaraan listrik di China telah menggunakan LFP pada 2025, naik dari besaran 2023 sebesar 67,3%. Sementara itu, baterai dengan kandungan nikel tinggi–rendah turun menjadi 18,7% ada 2025 dari level 2023 sebesar 30,8%.
“Pergeseran tersebut juga makin meluas di pasar negara berkembang di luar China, di mana pangsa LFP meningkat menjadi 66,5% pada 2025 dari 46,3% pada 2024,” tegas BMI.
Bagaimanapun, BMI memprediksi pertumbuhan permintaan nikel yang tetap kuat bakal memberikan tambahan dukungan bagi harga nikel dan membantu menyerap sebagian surplus pasar, meskipun terdapat risiko pasokan dari Indonesia.
BMI bahkan merevisi naik proyeksi harga logam nikel 2026 menjadi US$17.000/ton dari sebelumnya US$16.600/ton.
Dalam risetnya, BMI mencatat harga logam nikel rata-rata sepanjang Januari hingga 7 Juli 2026 mencapai US$17.862/ton.
BMI menjelaskan, harga nikel mulai menguat sejak kuartal I-2026 setelah Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memangkas kuota produksi bijih menjadi 260—270 juta ton, turun dari 379 juta ton yang disetujui pada 2025.
Selain itu, BMI menyatakan sentimen tersebut makin menguat setelah Kementerian ESDM merevisi formula Harga Patokan Mineral (HPM) yang menaikkan harga acuan transaksi bijih nikel domestik sehingga meningkatkan biaya pengadaan bijih bagi smelter.
BMI mencatat pengetatan RKAB, kenaikan HPM, serta risiko pasokan sulfur bagi smelter HPAL mendorong harga nikel menyentuh level tertinggi tahun ini sebesar US$19.642/ton pada 5 Mei 2026.
Akan tetapi, BMI mencermati bahwa sentimen tersebut berubah pada ketika Kementerian ESDM mengisyaratkan akan menyetujui tambahan kuota bijih nikel.
Menurut BMI, langkah tersebut meredakan kekhawatiran terhadap pasokan bahan baku sehingga harga nikel turun ke US$16.250/ton pada 2 Juli 2026.
“Panduan terbaru pemerintah sejalan dengan pandangan kami pada April bahwa kerangka kuota bijih Indonesia pada akhirnya akan dikelola secara fleksibel sebagai respons terhadap kondisi pasar dan kebutuhan kapasitas hilir, sehingga mengurangi kemungkinan bahwa kebijakan yang lebih ketat akan berujung pada kekurangan bahan baku yang berkepanjangan,” ungkap BMI.
Adapun, Kementerian ESDM menegaskan tidak akan ada peningkatan signifikan terhadap kuota produksi nikel dalam RKAB 2026. Namun, pemerintah berkomitmen menjaga keseimbangan pasar guna mencegah terjadinya kelebihan pasokan.
Direktur Jenderal Mineral dan Batubara (Dirjen Minerba) Kementerian ESDM Tri Winarno menjelaskan penyesuaian RKAB hanya akan difokuskan untuk memenuhi kebutuhan fasilitas pemurnian (smelter) yang saat ini masih kekurangan pasokan bijih nikel.
"Ini saya mau jelaskan, nikel tidak ada kenaikan [kuota produksi di RKAB] kecuali hanya mengejar untuk smelter yang masih kekurangan suplai. Itu saja," ungkap Tri saat ditemui awak media di kantor Kementerian ESDM, Jumat (10/7/2026) petang.
Saat ditanya mengenai perincian angka penambahan kuota tersebut, Tri enggan membeberkan secara spesifik.
Dia menyebut Ditjen Minerba masih menghitung total kebutuhan smelter dan mencocokkannya dengan kuota RKAB yang telah disetujui sebelumnya.
Sekadar informasi, kuota kumulatif produksi bijih nikel dalam RKAB tahun ini berada di rentang 260 juta ton sampai 270 juta ton, terpelanting dari realisasi produksi tahun lalu sebanyak 320 juta ton.
(azr/wdh)































