Logo Bloomberg Technoz

Minyak mentah Brent melonjak pada Jumat, naik sekitar 4,6% hingga ditutup di kisaran US$88 per barel, sekaligus mencatat kenaikan mingguan terbesar sejak April. Kenaikan itu terjadi setelah Axios melaporkan bahwa pemerintahan Trump telah memberi tahu Israel mengenai pengiriman tambahan pesawat pengisian bahan bakar di udara (refueling planes) ke negara tersebut. Langkah itu dinilai sebagai sinyal bahwa operasi militer AS dapat diperluas dalam beberapa hari ke depan. Axios mengutip pembicaraan dengan tiga pejabat Amerika Serikat dan Israel.

Selain menyerang menara pengawas di pelabuhan, AS juga menghantam enam jembatan jalan raya pada Kamis malam, menurut media pemerintah Iran. Secara terpisah, muncul laporan mengenai serangan di Kota Bushehr di selatan Iran, lokasi satu-satunya pembangkit listrik tenaga nuklir milik negara itu, serta di Provinsi Lorestan di bagian barat.

Media Iran juga melaporkan bahwa sebuah kapal tanker minyak kosong yang sedang bersandar di Pulau Kharg kembali diserang oleh Amerika Serikat, setelah sebelumnya juga menjadi sasaran serangan beberapa hari lalu.

Eskalasi konflik tersebut memicu kekhawatiran bahwa perjanjian gencatan senjata, yang dimaksudkan untuk memulihkan kembali pelayaran normal melalui Selat Hormuz sekaligus membuka jalan bagi proses perundingan damai jangka panjang, kini semakin sulit untuk diselamatkan.

Peta Serangan yang dilaporkan hingga 16 Juli di Selat Hormuz. (Sumber: Armed Conflict Location & Event Data, International Maritime)

Teheran membalas serangan Amerika Serikat dengan menargetkan pangkalan militer AS di Kuwait, Yordania, dan Bahrain — tiga negara yang paling banyak menjadi sasaran serangan balasan Republik Islam Iran sejak pertempuran kembali meningkat pada awal pekan lalu — serta Kepulauan As Salamah di Oman yang berada di Selat Hormuz.

Serangan di Yordania mengakibatkan beberapa personel militer AS mengalami luka-luka, menurut laporan CBS News yang mengutip sejumlah pejabat yang tidak disebutkan namanya.

Hingga Jumat malam, Komando Pusat Amerika Serikat (Centcom) belum memberikan tanggapan atas permintaan komentar terkait perkembangan tersebut.

Iran juga menyerang sistem radar dan pesawat militer AS di Qatar, salah satu mediator utama antara Washington dan Teheran, menurut kantor berita Tasnim. Selain itu, Iran meluncurkan rudal balistik ke sebuah pangkalan militer Amerika Serikat di Arab Saudi, lapor Axios pada Jumat. Langkah tersebut dinilai sebagai eskalasi konflik di kawasan, mengingat dalam beberapa bulan terakhir Iran sebagian besar menghindari serangan terhadap fasilitas di Arab Saudi.

Di Kuwait, pemerintah melaporkan serangan terhadap fasilitas desalinasi air dan pembangkit listrik, yang mengakibatkan banyak unit pembangkit mengalami kerusakan.

Dalam pidato kepada rakyat Amerika pada Kamis malam, Presiden Donald Trump kembali menggambarkan situasi di Timur Tengah sebagai sebuah keberhasilan.

"Kami meraih kemenangan besar di Iran, dan Anda akan segera melihat hasil dari upaya tersebut dalam waktu yang sangat dekat," kata Trump, sebelum kemudian mengalihkan pembahasannya ke isu-isu domestik.

China dan Pakistan menyampaikan keprihatinan atas perkembangan terbaru tersebut serta menyerukan agar Amerika Serikat dan Iran menghentikan permusuhan dan kembali menempuh jalur dialog.

Meski demikian, eskalasi konflik saat ini masih jauh lebih kecil dibandingkan dengan puncak perang pada Maret hingga awal April. Saat itu, Amerika Serikat dan Israel melancarkan pemboman besar-besaran terhadap kota-kota di Iran, sementara Teheran menembakkan ribuan drone dan rudal ke negara-negara Arab di Teluk serta Israel.

Namun, dengan Iran yang terus melancarkan serangan di jalur maritim dan tetap bersikeras bahwa semua kapal harus memperoleh izin dari Teheran sebelum melintasi Selat Hormuz, terdapat kemungkinan besar kedua pihak akan terus meningkatkan eskalasi, kata Mehran Ka

China dan Pakistan menyampaikan keprihatinan atas perkembangan terbaru tersebut serta menyerukan agar Amerika Serikat dan Iran menghentikan permusuhan dan kembali menempuh jalur dialog.

Meski demikian, eskalasi konflik saat ini masih jauh lebih kecil dibandingkan dengan puncak perang pada Maret hingga awal April. Saat itu, Amerika Serikat dan Israel melancarkan pemboman besar-besaran terhadap kota-kota di Iran, sementara Teheran menembakkan ribuan drone dan rudal ke negara-negara Arab di Teluk serta Israel.

Namun, dengan Iran yang terus melancarkan serangan di jalur maritim dan tetap bersikeras bahwa semua kapal harus memperoleh izin dari Teheran sebelum melintasi Selat Hormuz, terdapat kemungkinan besar kedua pihak akan terus meningkatkan eskalasi, kata Mehran Kamrava, profesor ilmu politik di kampus Universitas Georgetown di Qatar.

"Serangan-serangan ini merupakan pertanda buruk bahwa situasi yang lebih parah masih akan terjadi," kata Kamrava kepada Bloomberg TV dari Doha pada Jumat. "Tidak ada pihak yang benar-benar menginginkan eskalasi ini, tetapi keduanya kini terjebak dalam siklus eskalasi yang sulit mereka hentikan. Aksi saling balas ini kini menjadi sangat berbahaya karena melibatkan serangan dan serangan balasan terhadap infrastruktur penting."

Selain meningkatkan frekuensi serangan udara ke Iran, Amerika Serikat kembali memblokade pelabuhan-pelabuhan Iran dan mencabut pengecualian sanksi (waiver) yang sebelumnya diberikan untuk ekspor minyak negara tersebut.

"Iran dan Amerika Serikat kini terjebak dalam spiral eskalasi, dengan tidak ada satu pun pihak yang bersedia mengalah," kata analis Bloomberg Economics, Becca Wasser dan Dina Esfandiary.

"Perang ini memang telah menimbulkan biaya besar bagi Teheran. Namun, pengaruh Iran di Selat Hormuz sangat berharga—terlalu berharga untuk dilepaskan."

(bbn)

No more pages