Kementerian tersebut mengimbau warga untuk menghemat penggunaan listrik guna meringankan beban jaringan listrik, yang biasanya sudah mengalami beban tinggi pada hari-hari musim panas di salah satu negara terpanas di dunia. Kuwait bersiap menghadapi suhu hingga 50°C pada akhir pekan ini.
Belum diketahui pasti apakah telah terjadi pemadaman listrik di negara tersebut, yang merupakan sekutu utama AS di kawasan tersebut.
Serangan tersebut merupakan salah satu dari beberapa serangan yang dilancarkan Iran terhadap Kuwait, Bahrain, Yordania, dan Oman semalam hingga Jumat. Sebagian besar rudal dan drone itu menargetkan pangkalan-pangkalan AS.
Iran membalas serangan terhadap wilayahnya dengan cara yang sama namun belum mengonfirmasi bahwa mereka menargetkan infrastruktur sipil Kuwait.
Meski begitu, Kementerian Energi Iran mengumumkan pada Jumat bahwa beberapa fasilitas pasokan listrik di selatan Iran—di mana serangan AS sebagian besar terkonsentrasi sejak awal pekan lalu—telah diserang. Kementerian tersebut mengimbau warga untuk membatasi penggunaan AC.
AS menyatakan bahwa mereka terutama menyerang infrastruktur militer Iran, seperti pangkalan rudal, drone, dan radar, untuk memaksa Teheran menghentikan serangan terhadap kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz. Meskipun demikian, Washington meningkatkan serangan terhadap jembatan jalan raya dalam 24 jam terakhir, yang menandai hari keenam berturut-turut pemboman terhadap Republik Islam Iran.
Presiden AS Donald Trump telah mengancam akan mengintensifkan operasi militer hingga Iran mengalah terkait Selat Hormuz. Fasilitas energi, kata Trump, akan menjadi target terakhir.
(bbn)































