Jadi, menurut Purbaya, uang primer merupakan indikator yang valid untuk melihat bahwa uang di sistem ada atau tidak.
"Untung setelah itu The Fed insyaf, mulai inject uang ke sistem, sehingga uang tidak minus. dan mulai positif. Ini yang menyebabkan AS bisa tumbuh sampai sekarang, walau kadang-kadang bunganya agak tinggi," papar Purbaya.
Dia menegaskan, konsep uang primer ini merupakan salah satu acuan yang dia pegang. Hal ini yang menjadi alasannya menyuntikkan likuiditas ke sistem perbankan, dan membuat uang primer tumbuh menjadi double digit, serta mendorong pertumbuhan ekonomi ke level 5,3% pada kuartal IV-2025.
Uang Primer Vs Inflasi
Menanggapi konsep pertumbuhan uang primer tersebut, Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede menjelaskan, secara teori, peningkatan base money dapat mempengaruhi inflasi dan nilai tukar rupiah, meski hubungannya tidak otomatis dan tidak selalu langsung.
Uang primer adalah fondasi paling awal dari uang beredar, terutama uang kartal yang beredar di masyarakat dan saldo bank di Bank Indonesia.
"Dalam teori moneter, pertumbuhan uang yang terlalu cepat dibandingkan pertumbuhan barang dan jasa pada akhirnya dapat mendorong kenaikan harga," kata Josua.
Buku ekonomi dasar juga menekankan bahwa sistem moneter berperan penting dalam menentukan tingkat harga dan inflasi dalam jangka panjang.
Menurut jalurnya, ketika uang primer naik, bank memiliki likuiditas lebih besar dan masyarakat memegang uang tunai lebih banyak. Jika likuiditas itu berubah menjadi kredit, belanja, dan permintaan barang-jasa, maka tekanan inflasi bisa naik.
Namun, ketika tambahan uang primer hanya mengendap sebagai cadangan bank, dipakai untuk kebutuhan musiman, atau diserap kembali oleh instrumen Bank Indonesia, dampaknya ke inflasi bisa kecil. Karena itu, uang primer baru menjadi tekanan inflasi yang kuat jika naiknya berlanjut ke uang beredar luas, kredit, dan belanja riil.
Dalam konteks Indonesia, lanjut Josua, bank sentral bahkan membedakan uang primer biasa dan uang primer yang disesuaikan untuk membaca dampak kebijakan likuiditas dengan lebih baik. BI menjelaskan bahwa uang primer yang disesuaikan digunakan untuk mengisolasi dampak penurunan giro bank di BI akibat insentif likuiditas, sehingga pembaca bisa memahami lebih jelas pengaruh kebijakan likuiditas terhadap perkembangan uang primer.
"Hubungannya dengan inflasi saat ini perlu dibaca hati-hati," tegas Josua.
Uang beredar luas M2 pada Mei 2026 tumbuh 10,8%, lebih tinggi dari April 9,2%, didorong oleh M1 yang tumbuh 15,3% dan uang kuasi 6,0%. Pertumbuhan M2 terutama dipengaruhi oleh kredit yang tumbuh 10,8% dan aktiva luar negeri bersih. Ini menunjukkan likuiditas memang meningkat, tetapi sumber inflasi tidak hanya berasal dari uang beredar.
Inflasi Juni 2026 lebih banyak dipicu oleh tekanan biaya, bukan murni oleh kelebihan uang. Inflasi tercatat naik menjadi 3,34% secara tahunan, terutama karena biaya sisi pasokan yang mulai diteruskan ke konsumen, termasuk kenaikan biaya input impor akibat pelemahan rupiah. Jadi, dalam kondisi sekarang, inflasi lebih banyak berasal dari harga energi, transportasi, pangan, dan rupiah yang melemah, sementara pertumbuhan uang beredar menjadi faktor pendukung, bukan penyebab tunggal.
Dampak Base Money terhadap Rupiah
Untuk rupiah, peningkatan uang primer bisa melemahkan nilai tukar secara tidak langsung jika pasar membaca kebijakan moneter terlalu longgar. Logikanya, jika jumlah rupiah bertambah cepat, sementara suku bunga riil rendah dan inflasi diperkirakan naik, maka investor dapat meminta imbal hasil lebih tinggi atau memilih memegang dolar AS. Akibatnya, lanjut dia, permintaan dolar naik dan rupiah tertekan.
"Tetapi lagi-lagi, hubungan ini tidak otomatis. Rupiah bisa tetap stabil meskipun uang primer naik jika BI menjaga suku bunga menarik, cadangan devisa cukup, arus modal masuk kuat, dan kepercayaan pasar terjaga," tutur Josua.
Dalam kerangka BI, stabilitas rupiah memang berarti dua hal sekaligus, yakni stabilitas harga barang dan jasa melalui inflasi yang rendah, serta stabilitas rupiah terhadap mata uang negara lain. Karena itu, BI tidak hanya melihat uang primer, tetapi juga inflasi, nilai tukar, cadangan devisa, suku bunga, kredit, dan kondisi pasar keuangan.
Kesimpulannya, korelasi antara uang primer, inflasi, dan rupiah adalah positif dalam jangka panjang, tetapi tidak selalu kuat dalam jangka pendek.
Uang primer yang naik dapat mendorong inflasi dan melemahkan rupiah jika berubah menjadi pertumbuhan kredit dan permintaan yang berlebihan, atau jika menurunkan kepercayaan terhadap nilai rupiah. Namun, jika kenaikan uang primer bersifat teknis, musiman, atau diimbangi penyerapan likuiditas oleh BI, dampaknya bisa terbatas. Untuk membaca risikonya, jangan hanya melihat uang primer, tetapi juga M2, pertumbuhan kredit, inflasi inti, ekspektasi inflasi, arus modal, cadangan devisa, dan arah suku bunga BI.
(lav)































