Logo Bloomberg Technoz

Dalam beberapa kasus, dokumen-dokumen yang dipaparkan bahkan sudah berusia bertahun-tahun, di mana beberapa berkas yang telah disunting ketat tersebut berasal dari tahun 2016.

Sementara itu, klaim mengenai adanya warga non-AS dalam daftar pemilih hanya dituangkan dalam rilis pers satu halaman tanpa menyertakan bukti dasar yang kuat. Berbagai studi dari pemilu-pemilu sebelumnya menunjukkan bahwa kasus warga non-AS yang ikut memberikan suara dalam pemilu merupakan fenomena yang sangat jarang terjadi, terlepas dari apa pun data registrasinya.

Pidato Trump kali ini menjadi momen yang kontroversial, bahkan untuk ukuran seorang presiden yang telah menghabiskan sekitar enam tahun di kantor tertinggi negara tersebut dengan rekam jejak meruntuhkan tradisi politik lama dan kerap melontarkan klaim yang tidak biasa.

Pidato kepresidenan yang disiarkan di jam tayang utama televisi biasanya hanya dicadangkan untuk peristiwa nasional besar atau momen duka yang serius. Namun, Trump justru menggunakan kesempatan ini untuk mengeluhkan sistem pemilu, tepat di saat rakyat Amerika mulai mempertanyakan keputusannya untuk terus melanjutkan perang yang tidak populer melawan Iran. Ditambah lagi, reputasi Trump dalam mengelola ekonomi tengah disorot tajam akibat inflasi yang tetap tinggi, serta situasi negara yang sedang bergulat dengan wabah penyakit akibat kontaminasi makanan, gelombang panas ekstrem, dan banjir mematikan di Texas.

Tepat saat sang presiden berpidato, Komando Pusat AS (CENTCOM) mengumumkan bahwa mereka baru saja menyelesaikan gelombang serangan besar terbaru ke Iran untuk hari keenam berturut-turut.

Trump menggunakan pidato tersebut untuk meyakinkan Kongres agar segera mengesahkan undang-undang identifikasi pemilih yang ketat. Meski demikian, belum ada tanda-tanda bahwa pidato ini mampu mengubah penolakan mendalam dari sejumlah senator Republik yang enggan menerobos aturan 60 suara di senat demi meloloskan rancangan undang-undang tersebut.

Trimp menegaskan bahwa sangat penting bagi warga Amerika untuk merasa bahwa pemilu mereka bebas dari pelanggaran dan intervensi pihak luar.

“Kerusakan besar telah terjadi pada negara kita. Pemilu kita dibiarkan rapuh terhadap manipulasi dan kecurangan, dan kepercayaan rakyat Amerika telah hilang,” tegas Trump dalam pidatonya.

Laporan intelijen tersebut memang menjadi inti dari seluruh isi pidato Trump. Langkah ini dinilai sebagai upaya terbarunya dalam misi jangka panjang untuk membuktikan bahwa Pilpres 2020 lalu telah dimanipulasi. Padahal, berbagai proses penghitungan ulang, gugatan hukum, dan penyelidikan resmi telah berulang kali menegaskan kemenangan Joe Biden dalam kontestasi pilpres tahun tersebut.

Trump dan para sekutunya hingga kini gagal menunjukkan bukti bahwa surat suara telah dirusak atau dimanipulasi pada Pemilu 2020 sebagaimana yang dituduhkan. Laporan dari Dewan Intelijen Nasional yang dideklasifikasi pada tahun 2021 juga menemukan tidak adanya indikasi bahwa aktor asing "mencoba mengubah aspek teknis apa pun dari proses pemungutan suara."

(bbn)

No more pages