Logo Bloomberg Technoz

“Ini nanti gasnya yang sudah kita lakukan, 60% minimal untuk memenuhi kebutuhan domestik dan 40% maksimal untuk ekspor. Sebagian kita akan memakai untuk hilirisasi PT Pupuk Indonesia,” lanjutnya.

Bahlil menyebut nantinya PT Pupuk Indonesia akan membangun industri hilir di areal yang berdekatan dengan proyek LNG Abadi Masela.

Selain ke PT Pupuk Indonesia, kata Bahlil, gas alam dari megaproyek besutan Inpex Corp. tersebut akan disalurkan juga untuk kebutuhan pembangkit PT PLN (Persero) serta PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk. (PGAS) atau PGN.

“Lalu beberapa perusahaan swasta yang sekaligus untuk meningkatkan nilai tambah dalam rangka mendorong penciptaan nilai ekonomi di daerah,” tuturnya.

Ilustrasi Blok Masela (Tangkapan Layar: Youtube Sekretariat Presiden)

Untuk diketahui, investasi proyek LNG Abadi Masela senilai US$20,9 miliar tersebut sudah termasuk komponen tambahan US$1 miliar untuk teknologi tangkap dan simpan karbon atau carbon capture and storage (CCS).

Proses analisis dampak lingkungnan (Amdal) telah dituntaskan pada Februari 2026, dan mencakup elemen inti proyek dari pengeboran lepas pantai hingga fasilitas likuifikasi darat (onshore).

Pembangunan fisik proyek dilaporkan telah dimulai sejak Februari 2026, dan proses pembebasan lahan di Kepulauan Tanimbar dinyatakan rampung akhir Juni 2026.

Adapun, tiga BUMN—yaitu PLN, PGN, dan Pupuk Indonesia — telah menandatangani heads of agreement (HoA) sebagai calon offtaker domestik dari gas alam Blok Masela.

Sementara itu, tender EPC ditargetkan berjalan sepanjang 2026, bersamaan dengan proses menuju keputusan investasi akhir atau final investment decision (FID).

Pemerintah pusat memberikan komitmen hak kelola atau participating interest (PI) sebesar 10% kepada Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) Maluku sebagai bagian dari skema manfaat bagi daerah.

Tadinya, pemegang PI Blok Masela a.l. Inpex Masela Limited sebesar 65%, PT Pertamina Hulu Energi (PHE) 20%, dan Petronas Masela Sdn. Bhd. 15%.

(wdh)

No more pages