“Jika Selat Hormuz tetap tertutup, kita mungkin kembali menghadapi kesulitan bagi perekonomian global, termasuk di kawasan ini, negara-negara berkembang, dan Asia,” kata Birol. “Bukan hitungan bulan, melainkan hitungan minggu” setelah itu selat tersebut harus “sepenuhnya terbuka, tanpa syarat,” ujarnya.
Meski gangguan pada pasokan energi dan bahan baku dari Teluk Persia telah berdampak pada perekonomian negara-negara seperti Korea Selatan dan Jepang, negara-negara seperti Bangladesh, Pakistan, dan India jauh lebih rentan terhadap pemutusan pasokan tersebut, kata Birol.
(bbn)
No more pages

































