Sebelumnya pada pekan ini, sebuah serangan drone juga menyasar platform pengeboran lepas pantai milik Kuwait Oil Co yang menyebabkan kerusakan infrastruktur serta melukai seorang pekerja. Di saat yang sama, serangan di tiga titik perbatasan utara juga dilaporkan menimbulkan kerusakan materi.
Negara kaya minyak tersebut telah menjadi sasaran setidaknya 16 serangan sejak AS dan Iran menyepakati gencatan senjata pada 8 April. Dalam periode tersebut, Kuwait mencatat jumlah korban lebih banyak dibandingkan negara-negara Arab di kawasan Teluk lainnya.
Namun, gencatan senjata itu kini telah runtuh. Dalam beberapa hari terakhir, serangan baru terjadi terhadap kapal-kapal tanker di Selat Hormuz, serta sejumlah negara lain di kawasan, termasuk Qatar, Yordania, dan Bahrain. Kapal tanker milik Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan Qatar juga dilaporkan menjadi sasaran serangan.
Sejak Perang Teluk pada awal 1990-an yang membebaskan Kuwait dari pendudukan Irak, negara itu menjadi tuan rumah bagi ribuan personel militer AS. Pasukan AS ditempatkan di lima pangkalan militer di Kuwait, termasuk Pangkalan Ali Al-Salem, yang berulang kali menjadi sasaran serangan sejak perang melawan Iran pecah pada Februari.
AS pada Selasa mengumumkan kembali memberlakukan blokade terhadap seluruh aktivitas pelayaran Iran menuju dan dari pelabuhan maupun wilayah pesisirnya, yang mulai berlaku pukul 16.00 waktu Washington. Pada saat yang sama, pasukan AS juga melancarkan gelombang baru serangan terhadap target-target di Iran yang diklaim bertujuan melemahkan kemampuan Teheran menyerang kapal-kapal dagang di Selat Hormuz.
(bbn)





























