Logo Bloomberg Technoz

Menurut Purbaya, penilaian S&P menjadi bukti bahwa kebijakan fiskal pemerintah selama ini berjalan dalam koridor yang tepat. Dia meyakini, keputusan tersebut akan mengurangi kekhawatiran pasar terkait risiko penurunan peringkat utang Indonesia (downgrade) yang sebelumnya sempat mencuat.

"Ini menunjukkan bahwa fiskal kita amat baik. Asesmen S&P memperlihatkan bahwa pemerintah menjalankan fiskal dengan tepat, prudent, dan menciptakan pertumbuhan ekonomi," tutur Purbaya.

Dia mengatakan penilaian S&P merupakan pengakuan internasional terhadap kemampuan pemerintah dalam menjaga kesehatan fiskal, di tengah berbagai kekhawatiran pasar mengenai arah kebijakan ekonomi Indonesia. 

Purbaya mengatakan, dalam beberapa waktu terakhir Indonesia sempat menghadapi tekanan sentimen negatif dari pasar karena muncul kekhawatiran terkait potensi penurunan peringkat kredit. Namun, hasil penilaian S&P dinilai menjadi konfirmasi bahwa fundamental ekonomi Indonesia masih kuat.

Lebih lanjut, Purbaya menegaskan pemerintah akan terus menjaga disiplin fiskal dan memperbaiki berbagai sisi yang masih mengalami inefisiensi. Menurutnya, kebijakan fiskal tidak dijalankan secara sembarangan, melainkan melalui evaluasi dan pembahasan secara berkala. 

"Kami selalu serius, selalu diskusi, dan selalu menilai ke mana kebijakan fiskal kita. Kelemahannya di mana, diperbaikinya di mana," jelasnya.

Sebelumnya, S&P Global memproyeksikan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS mencapai Rp17.700/US$ pada 2026.

Walaupun lebih rendah dari posisi kurs rupiah pada perdagangan hari ini (13/7/2026), Rp18.092/US$, proyeksi tersebut lebih tinggi dari rentang target pemerintah di Rp16.200/US$ hingga Rp16.800/US$.

Risiko Masih Membayangi 

Selanjutnya, pada 2027, S&P memperkirakan rupiah kembali menguat di level Rp17.500/US$. 

Di sisi lain, S&P mengingatkan cepatnya perubahan kebijakan dan ketidakpastian implementasi masih dapat memengaruhi kepercayaan investor serta memberikan tekanan terhadap nilai tukar rupiah maupun pasar keuangan.

Ekonomi Indonesia tercatat tumbuh 5,6% secara tahunan pada kuartal I-2026, didorong meningkatnya konsumsi saat libur panjang dan percepatan realisasi belanja pemerintah. Namun, di saat yang sama pasar keuangan mengalami gejolak signifikan.

Sepanjang semester I-2026, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kehilangan lebih dari 30% kapitalisasi pasarnya, sedangkan rupiah melemah sekitar 7% terhadap dolar AS. 

Menurut S&P, perbedaan kinerja antara sektor riil dan pasar keuangan mencerminkan tingginya ketidakpastian, baik dari faktor global maupun domestik. Di tingkat global, meskipun dampak tarif Amerika Serikat mulai mereda, konflik di Timur Tengah serta penutupan Selat Hormuz menghadirkan risiko baru terhadap kawasan.

(lav)

No more pages