Di sisi lain, pemerintah Yaman yang diakui secara internasional dan saat ini berbasis di Riyadh, mengklaim bertanggung jawab atas serangan di Sanaa. Mereka menyatakan bahwa Iran telah melanggar kedaulatan Yaman karena mengizinkan pesawat tersebut mendarat di sana.
Serangan-serangan ini menandai eskalasi besar pertama antara Houthi dan pemerintah Yaman yang didukung Saudi sejak keduanya menyepakati gencatan senjata pada tahun 2022. Arab Saudi sendiri mulai mengintervensi perang saudara Yaman yang pecah di perbatasannya sekitar tahun 2015 guna menyokong pemerintah yang sah setelah digulingkan oleh Houthi.
Houthi kini menjadi bagian penting dari jaringan kelompok proksi Iran yang tersebar di Timur Tengah. Jaringan tersebut juga mencakup Hizbullah di Lebanon, yang telah dua kali berperang melawan Israel dalam tiga tahun terakhir dan berkoordinasi dengan Teheran dalam berbagai serangan terhadap negara tersebut.
Houthi sendiri sejauh ini relatif menghindari keterlibatan langsung dalam perang Iran melawan Israel dan Amerika Serikat. Peran mereka hanya terbatas pada beberapa serangan rudal yang bersifat simbolis terhadap Israel.
Kelompok itu juga tidak lagi mengganggu pelayaran internasional di Laut Merah seperti yang mereka lakukan beberapa tahun lalu setelah pecahnya perang Israel di Gaza. Saat itu, banyak kapal terdampak dan lalu lintas pelayaran di jalur tersebut sempat anjlok drastis.
Situasi serupa belum terjadi tahun ini, meskipun Iran sempat mengancam akan menutup Selat Bab Al-Mandab di Laut Merah, sebagaimana yang dilakukan terhadap Selat Hormuz sebagai respons atas serangan Amerika Serikat ke wilayahnya.
Apabila serangan di Laut Merah kembali meningkat, kondisi itu dapat mengganggu ekspor minyak Arab Saudi melalui Pipa East-West, yang memungkinkan minyak mentah dikirim ke Laut Merah tanpa melewati Selat Hormuz menuju Eropa dan pasar lainnya. Selain itu, Arab Saudi juga memandang situasi di Yaman sebagai isu keamanan nasional mengingat letak kedua negara yang berbatasan langsung.
Delegasi Houthi yang kembali dari Iran kemudian diizinkan mendarat di Hodeidah, pelabuhan yang dikuasai kelompok tersebut.
Hal itu menunjukkan bahwa "masih ada upaya untuk menghindari eskalasi regional yang lebih luas," kata analis Yaman yang berbasis di Amerika Serikat, Mohammed al-Basha.
Meski demikian, ia menilai situasi dapat berubah sewaktu-waktu dan "kita bisa saja sedang bergerak menuju perang skala penuh" antara Arab Saudi dan Houthi.
(bbn)
































