Kerja sama tersebut bertujuan untuk mengoptimalisasi pasokan–permintaan mineral kristis dan material maju untuk kebutuhan industri strategis dalam negeri.
Selain itu, MoU tersebut diharapkan dapat mempercepat pengembagnan industri material maju berskala besar, serta mendorong pertumbuhan ekonomi bernilai tambah tinggi melalui program strategis.
Sektor-sektor industri yang dibidik a.l. mobil dan motor listrik nasional, dirgantara, maritim, komponen dasar, pertahanan dan ketenagalistrikan.
Di sisi lain, Chief Technology Officer Danantara Sigit P. Santosa menyatakan pengembangan industri antara atau middle stream material maju harus dilakukan secara terintegrasi, agar terciptanya industri manufaktur yang bernilai tambah tinggi dan penguasaan rantai pasok.
“Nikel tetap menjadi salah satu keunggulan penting, tetapi agenda besarnya adalah membangun kapasitas industri yang lebih luas, bernilai tambah tinggi, dan kompetitif secara global,” ujar Sigit.
Baru-baru ini, Indonesia dan India meneken sejumlah nota kesepahaman atau kerja sama di sektor pengembangan LTJ hingga baja nirkarat atau stainless steel, bahkan kerja sama juga dilakukan di level perusahaan.
Hal tersebut diumumkan usai Perdana Menteri (PM) India Narendra Modi melakukan pertemuan bilateral dan pertemuan empat mata dengan Presiden Prabowo Subianto.
Dalam nota kesepahaman yang diumumkan, kedua negara menyepakati kerja sama di bidang mineral dan teknologi untuk rantai pasok baja nirkarat.
Selain itu, terdapat nota kesepahaman yang diteken antara Non-Ferrous Materials Technology Development Centre, MIDWEST Ltd., dan Perminas.
Kemudian, terdapat kerja sama usaha patungan atau joint venture antara Steel Authority of India dan Krakatau Steel.
Kepala Badan Industri Mineral (BIM), Brian Yuliarto, menyatakan bahwa Perminas bakal mengelola logam tanah jarang (rare earth) bersama perusahaan tambang asal India, Midwest Limited
"Ya, betul. Jadi, kita sedang menjajaki kerja sama terkait teknologi hilirisasi untuk pemisahan dan pemurnian rare earth. Tim dari Perminas dan BIM [Badan Industri Mineral] sudah beberapa kali ke India untuk melakukan pembicaraan," ungkap Brian saat ditemui awak media di kompleks Istana Kepresidenan, Selasa (7/7/2026).
Menurut Brian, India memiliki teknologi mumpuni untuk pemurnian logam tanah jarang. Selain itu, negara tersebut juga menawarkan teknologi untuk pembangunan industri magnet.
"Peluang ini sedang kita jajaki formatnya seperti apa. Kita berharap Indonesia bisa membangun industri magnet maupun fasilitas pemurnian rare earth melalui kerja sama dengan India ini," tambahnya.
Meski begitu, mengenai bentuk konkret kolaborasi tersebut—apakah sebatas pertukaran teknologi atau mencakup investasi fisik—Brian menegaskan bahwa arah kerja sama ini bermuara pada hilirisasi domestik.
"Kami tentu akan membangun pabrik industri di Indonesia. Namun, detail bentuk kerja samanya seperti apa, itulah yang sedang kami matangkan," pungkas Brian.
Dalam kesempatan terpisah, Brian mengungkapkan Indonesia turut berencana mengembangan mineral strategis selain LTJ yang memiliki peran penting untuk industri pertahanan, yakni; antimon (Sb), tungsten (W), dan tantalum (Ta).
Brian menjelaskan tiga mineral tersebut tidak tergolong sebagai LTJ, tetapi memiliki peran penting dalam pengembangan industri pertahanan.
“Kami juga mendapatkan permintaan dan arahan dari Bapak Presiden untuk kemudian melakukan pengembangan juga di beberapa mineral lain yang memiliki dampak atau sangat penting perannya untuk industri pertahanan, yaitu; antimon, tungsten, dan tantalum,” kata Brian dalam rapat dengar pendapat (RDP) di Komisi XII, dikutip Selasa (10/2/2026).
Adapun, mengutip situs resmi Kementerian ESDM, LTJ atau REE merupakan kelompok unsur logam yang dalam tabel periodik termasuk ke dalam 15 unsur deret lantanida yaitu lanthanum (La), cerium (Ce), praseodymium (Pr), neodymium (Nd), promethium (Pm), samarium (Sm).
Lalu, europium (Eu), gadolinium (Gd), terbium (Tb), dysprosium (Dy), holmium (Ho), erbium (Er), thulium (Tm), ytterbium (Yb), dan lutetium (Lu). Ditambah dua unsur lain yakni scandium (Sc) dan yttrium (Y).
LTJ biasanya dijumpai pada berbagai jenis deposit seperti batuan beku peralkalin, deposit iron-oxide-copper-gold, intrusi batuan beku pegmatit, batuan metamorf, dan endapan sekunder berupa endapan aluvial laterit.
“Endapan logam tanah jarang terdiri atas endapan primer dan endapan sekunder. Endapan primer berkaitan erat dengan proses magmatik dan hidrotermal, sedangkan endapan sekunder berhubungan dengan aktivitas pelapukan dan endapan sedimentasi yang terbentuk pada berbagai lingkungan seperti sungai, pantai, kipas aluvial dan delta,” tulis Kementerian ESDM dalam situs resminya.
LTJ juga bisa terkumpul di sisa endapan mineral yang terbentuk di permukaan bumi, seperti pada nikel laterit, bauksit, dan timah plaser.
(azr/wdh)































