Namun lebih jauh, dampak dari gugatan itu sendiri kemungkinan akan terasa lebih cepat — dengan perselisihan hukum tersebut berpotensi membebani rencana perekrutan dan pengembangan produk.
OpenAI menolak berkomentar mengenai rencana perangkatnya. Menanggapi gugatan pada hari Jumat, OpenAI hanya menyebut bahwa mereka “tidak tertarik pada rahasia dagang perusahaan lain” dan akan “tetap fokus pada pengembangan teknologi inovatif.”
Bagi Apple, taruhannya dalam pertarungan dengan OpenAI sangat besar. Perusahaan AI yang berbasis di San Francisco ini telah secara agresif merekrut karyawan dari divisi perangkat Apple, sehingga menghabiskan stok talenta dari tim-tim yang bertanggung jawab atas iPhone, Apple Watch, AirPods, dan produk-produk utama lainnya.
Dalam beberapa kasus, OpenAI merekrut begitu banyak karyawan dari grup engineer — terutama di dalam struktur organisasi desain produk iPhone — sehingga Apple terpaksa membangun kembali sebagian dari tim-tim tersebut.
Secara total, OpenAI kini mempekerjakan lebih dari 400 mantan karyawan Apple, setelah berhasil memikat banyak di antara mereka dengan paket gaji dan penghasilan yang begitu menggiurkan, sehingga produsen iPhone tersebut baru-baru ini merespons dengan bonus retensi yang sangat besar.
Apple bahkan telah mengirimkan beberapa eksekutif level tertinggi untuk membantu meyakinkan para insinyur berpengalaman agar tetap bertahan di perusahaan.
Masalah rahasia dagang ini telah menjadi salah satu kekhawatiran internal terbesar Apple selama beberapa bulan terakhir, bahkan di tengah ancaman tarif dan kelangkaan memori perangkat yang terjadi sekali dalam satu generasi.
Dengan menggabungkan ratusan mantan engineer Apple bersama para desainer legendaris seperti Jony Ive — lantas mensinergikan keahlian tersebut dengan teknologi kecerdasan buatan (AI) terdepan di industri — OpenAI telah menempatkan diri sebagai pesaing tangguh di sektor perangkat Apple dalam beberapa tahun terakhir.
Prospek tersebut muncul di tengah upaya Apple yang masih terseok-seok dalam bidang AI dan sedang merombak organisasi perangkat kerasnya.
Bahkan para eksekutif Apple sendiri telah mengakui potensi AI yang disruptif. Selama memberikan kesaksian dalam persidangan antitrust terkait mesin pencari Google tahun lalu, kepala layanan Apple, Eddy Cue, memperingatkan bahwa AI dapat mengubah pasar perangkat.
“Anda mungkin tidak memerlukan iPhone 10 tahun dari sekarang, meskipun kedengarannya gila,” katanya.
Apple, dalam dokumen hukumnya, menyatakan bahwa gugatan ini sepenuhnya berkaitan dengan rahasia dagang dan menggambarkan pengembangan perangkat keras OpenAI sebagai sesuatu yang masih dalam tahap awal.
“Gugatan yang dimaksud dan proses pengungkapan bukti diperlukan untuk mengungkap dan mulai memperbaiki pencurian rahasia dagang Apple yang meluas,” kata perusahaan yang berbasis di Cupertino, California, tersebut
Namun, hanya dengan mengajukan gugatan ini, Apple telah mulai merusak potensi OpenAI untuk membangun perangkat yang tidak hanya mirip, bahkan bisa jadi lebih baik dari iPhone.
Tuduhan pencurian rahasia datang, dibarengi dengan potensi penyelidikan dan kekhawatiran mengenai metode OpenAI, mungkin akan membuat banyak karyawan Apple mempertimbangkan kembali keputusan mereka untuk pindah ke OpenAI.
Bahkan sekadar mengikuti wawancara kerja di OpenAI saja dapat membuat karyawan Apple menjadi sorotan tim keamanan dan jajaran pimpinan perusahaan tersebut. Hal itu saja mungkin akan memperlambat proses rekrutmen OpenAI, membuat lebih banyak engineer tetap bertahan di Apple.
Selain masalah perekrutan, gugatan ini kemungkinan akan mengubah kultur teknik di OpenAI. Mantan karyawan Apple mungkin menjadi segan untuk membahas pekerjaan mereka sebelumnya, sementara manajer mungkin menghindari mengajukan pertanyaan teknis tertentu karena khawatir hal itu dapat masuk ke area informasi rahasia Apple. Akibatnya, organisasi tersebut bisa menjadi lebih berhati-hati.
Gugatan juga kemungkinan akan menimbulkan birokrasi tambahan di OpenAI, termasuk tinjauan hukum baru, pengendalian internal yang lebih ketat, dan pelatihan kepatuhan yang mengalihkan insinyur dari pekerjaan pengembangan.
Para eksekutif senior OpenAI kemungkinan akan menghabiskan waktu untuk bertemu dengan pengacara, menangani tahap pengumpulan bukti dalam kasus ini, dan memberikan kesaksian. Semua itu berpotensi memperlambat proses pengembangan.
Dalam jangka panjang, jika Apple mampu membuktikan bahwa OpenAI telah memasukkan rahasia dagangnya ke dalam perangkat masa depan, startup AI tersebut mungkin terpaksa mendesain ulang produknya. Hal ini akan mirip dengan penyelesaian Apple dengan startup chip Rivos, yang pada akhirnya setuju untuk mendesain ulang sebagian teknologi prosesornya.
Segera setelah Apple mengajukan gugatan, OpenAI masih yakin bahwa mereka tetap berada di jalur yang tepat untuk mengumumkan produk pertamanya tahun ini dan meluncurkannya pada 2027, menurut seorang sumber yang mengetahui masalah ini. Namun, hal itu masih bisa berubah seiring OpenAI menelaah klaim Apple, kata sumber tersebut, yang meminta namanya tidak disebutkan karena membahas masalah internal.
Meski demikian, meskipun pengembangan produk pertamanya sudah berada pada tahap lanjut, kini kemungkinan akan lebih menantang untuk segera mengembangkan apa yang OpenAI gambarkan sebagai rangkaian perangkat.
OpenAI telah menjajaki beberapa kategori perangkat — termasuk speaker pintar dan perangkat wearable — namun tujuan utamanya adalah meluncurkan pesaing iPhone, seperti dilaporkan Bloomberg News. Perangkat bukan ponsel, yang lebih mudah dikembangkan dibandingkan pesaing iPhone, kemungkinan akan diluncurkan terlebih dahulu.
Pada bagian terpisah, Apple sedang mengembangkan perangkat yang didukung AI, termasuk AirPods baru, liontin kalung, dan kacamata pintar. Apple juga sedang mengembangkan berbagai perangkat rumah tangga, termasuk robot meja, pusat kendali rumah pintar dengan pengenalan wajah, dan sistem keamanan.
“Apple kemungkinan akan memperoleh putusan awal yang ditargetkan terkait upaya pengembangan perangkat OpenAI,” tulis Bloomberg Intelligence pada hari Senin. “Setiap putusan kemungkinan akan mewajibkan pemisahan materi yang menjadi sengketa, penyimpanan bukti, dan sertifikasi kepatuhan, yang berpotensi memperlambat rencana perangkat OpenAI.”
Faktor lainnya adalah rantai pasok. Walau jaringan manufaktur elektronik di Asia sangat luas, komunitas pemasok yang memproduksi perangkat konsumen relatif kecil. Mengingat kekuatan pasar Apple, para pemasok mungkin akan berpikir dua kali sebelum memperdalam hubungan mereka dengan OpenAI karena khawatir hal itu dapat membahayakan kemitraan yang jauh lebih besar dan mapan, atau menyeret mereka ke dalam perkara hukum.
OpenAI boleh saja memiliki apa yang dianggapnya sebagai talenta teknik terbaik di Silicon Valley, sumber daya hukum untuk melawan klaim Apple, serta mantan eksekutif Apple seperti Ive dan Tang Tan, yang hubungan jangka panjangnya dengan pemasok, investor, dan mitra kunci lainnya, dapat membantu mereka memitigasi dampak negatif dan menjaga ambisi perangkat kerasnya tetap pada jalurnya.
Terlepas dari apakah Apple pada akhirnya dapat membuktikan tuduhannya atau tidak, gugatan tersebut telah menciptakan persepsi yang mungkin sulit dihilangkan oleh OpenAI. Dalam sebuah postingan di X pada hari Sabtu, CEO OpenAI Sam Altman mengatakan bahwa ia “tidak takut pada Apple” dan memiliki “rasa hormat yang luar biasa” terhadap perusahaan tersebut.
i am not afraid of apple, but i have tremendous respect for them. s-tier company.
— Sam Altman (@sama) July 11, 2026
Apple, dalam gugatannya, menyebut bahwa mereka melihat situasi ini secara berbeda. “Bisnis perangkat OpenAI kini berdiri di atas fondasi yang paling rapuh, yang telah busuk hingga ke intinya akibat ketergantungan ilegal pada rahasia dagang yang disalahgunakan,” tulis perusahaan tersebut.
Jauh sebelum kasus ini sampai ke hadapan hakim atau juri, Apple mungkin telah mencapai sesuatu yang sama berharganya dengan kemenangan di ruang sidang: memperlambat laju perusahaan yang paling bersemangat dalam mengantarkan era setelah iPhone.
(red)
































