Merosotnya saham RANS belakangan memperkecil performa setelah debut IPO pada Jumat (10/7/2026). Selepas anjlok, kenaikan saham RANS usai IPO makin susut menjadi 20%.
RANS menawarkan harga IPO Rp170 per saham. perseroan menawarkan sebanyak 2,52 miliar saham baru atau setara 20,02% dari modal ditempatkan dan disetor penuh setelah IPO.
Dengan harga penawaran tersebut, RANS berpotensi menghimpun dana sebesar Rp429,25 miliar.
Valuasi RANS
Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia Liza Camelia Suryanata menilai valuasi saham perseroan sudah relatif mahal.
Liza mengatakan, price to earnings ratio (PER) RANS berada di kisaran 30–38 kali dengan asumsi penawaran Rp170 per saham.
Menurutnya, valuasi tersebut relatif tinggi untuk perusahaan yang pendapatan dan laba bersihnya justru sedang mengalami penurunan.
"Menurut kami, daya tarik utama IPO RANS lebih bertumpu pada potensi pertumbuhan dibandingkan fundamental yang sudah matang,” kata Liza saat dihubungi, Kamis (2/7/2026).
“Karena itu, investor akan menilai apakah kekuatan brand yang dimiliki RANS benar-benar bisa diterjemahkan menjadi pertumbuhan pendapatan dan laba yang berkelanjutan," kata Liza.
Di sisi lain, PT Trimegah Sekuritas Indonesia Tbk (TRIM) menegaskan valuasi RANS tidak dapat diukur dengan pendekatan yang lazim digunakan pada perusahaan manufaktur.
Managing Director Trimegah Sekuritas David Agus mengatakan, nilai utama RANS terletak pada kemampuan perseroan membangun ekosistem bisnis kreatif yang dapat menghasilkan pendapatan secara berkelanjutan.
David mengatakan esensi bisnis RANS bukan berada pada aset fisik, melainkan kreativitas yang mampu menciptakan pengaruh, membangun basis pengikut (followers), hingga akhirnya dimonetisasi menjadi berbagai lini usaha.
"Esensi RANS adalah kreativitas. Dari kreativitas lahir influence, dari influence lahir followers, dan dari followers kemudian tercipta monetisasi," ujar David saat konferensi pers usai pencatatan saham RANS di Gedung BEI Jakarta, Jumat (10/7/2026).
Menurut dia, pendekatan tersebut membuat valuasi perusahaan ekonomi kreatif berbeda dengan perusahaan yang mengandalkan aset fisik.
Yang menjadi pertimbangan adalah kemampuan perusahaan membangun ekosistem, memperluas basis audiens, dan mengubah pengaruh menjadi model bisnis yang menghasilkan pendapatan.
David juga menilai risiko bisnis RANS kini makin terdiversifikasi karena sumber pendapatan perseroan tidak lagi bergantung pada satu figur publik.
Dalam kesempatan yang sama, Komisaris RANS Entertainment Indonesia, Darwin Cyril Noerhadi menyampaikan, selama beberapa tahun terakhir perseroan sengaja melakukan transformasi model bisnis untuk mengurangi ketergantungan terhadap pendapatan dari aktivitas brand ambassador.
Kontribusi pendapatan dari lini tersebut, kata Darwin, turun dari sekitar 24% pada 2023 menjadi sekitar 14% pada 2025.
Di sisi lain, kontribusi bisnis berbasis intellectual property (IP), event, produk, serta pemanfaatan data terus meningkat.
"Ini menjadi bukti bahwa perusahaan berhasil mengurangi ketergantungan terhadap individu dan memperkuat sumber pendapatan yang lebih berkelanjutan," ujarnya.
(red)





























