Menurut Jeffrey, kondisi pasar sepanjang 2026 menghadapi tekanan dari tingginya ketidakpastian global.
Situasi tersebut turut memengaruhi minat perusahaan untuk menghimpun dana melalui pasar modal.
Selain itu, dia menggarisbawahi, proses pencatatan saham di bursa efek memerlukan persiapan yang matang. Dengan demikian, rencana pencatatan saham setiap tahun akan mengikuti perkembangan kondisi pasar.
Kendati demikian, BEI tetap optimistis target lebih dari 1.100 perusahaan tercatat pada 2030 dapat tercapai. “Tetapi dari tahun ke tahun tentu akan kita sesuaikan dengan kondisi pasar di tahun tersebut,” tuturnya.
Di tengah upaya menambah jumlah perusahaan tercatat, BEI juga telah menyampaikan kajian mengenai insentif bagi emiten maupun investor. Adapun bentuk dan waktu pemberian insentif menjadi kewenangan Kementerian Keuangan.
“Karena kewenangan untuk memberikan insentif itu ada di Kementerian, tentu kami serahkan bentuk dan waktunya kepada Kementerian Keuangan,” tutur Jeffrey.
BEI saat ini fokus mendorong peningkatan transparansi, tata kelola, dan kredibilitas pasar. Salah satu yang turut menjadi bahan diskusi adalah kemungkinan perluasan insentif bagi emiten berdasarkan tingkat partisipasi publik.
Saat ini, insentif telah diberikan kepada perusahaan tercatat dengan porsi free float di atas 40%. Namun, peluang pemberian insentif kepada emiten dengan free float di bawah level tersebut juga dapat dikaji dengan sejumlah pertimbangan.
“Tentu bisa menjadi bahan diskusi apakah perusahaan tercatat yang free float-nya tidak sampai 40% pun dapat diberikan insentif. Misalnya melihat berapa besar partisipasi publiknya dan lain-lain,” kata Jeffrey.
Sementara itu, target penambahan 50 emiten baru pada 2026 masih belum berubah.
Namun, BEI masih mengevaluasi target tersebut seiring perkembangan kondisi pasar dan penyesuaian sejumlah peraturan pencatatan yang mulai berlaku tahun ini.
Tunda IPO
Sebelumnya,Direktur Penilaian Perusahaan BEI Saidu Solihin mengatakan kondisi pasar menjadi salah satu faktor yang membuat sejumlah perusahaan memilih menunggu momentum yang dinilai lebih tepat untuk melantai di bursa.
“Sehingga banyak sekali ketika kondisinya tidak sesuai dengan bayangan mereka, mereka nunda, yang akhirnya batal," kata Saidu di Gedung BEI Jakarta pada Kamis (9/7/2026).
Menurut dia, perusahaan seharusnya memandang IPO sebagai bagian dari strategi jangka panjang untuk mengembangkan usaha, bukan semata-mata bergantung pada kondisi pasar saat penawaran saham dilakukan.
Meski demikian, Saidu menegaskan BEI tetap berfokus menjaga kualitas perusahaan yang akan melantai di bursa dibanding sekadar mengejar jumlah emiten baru.
Menurutnya, kualitas perusahaan menjadi faktor utama untuk mengembalikan kepercayaan investor terhadap pasar modal.
"Kami fokus ke kualitas. Karena kuantitas itu kan momentum. Yang bisa kita lakukan adalah memastikan perusahaan-perusahaan yang masuk memang berkualitas," ujar dia.
(cpa/naw)





























