Sejumlah dinamika itu di antaranya perang dagang, konflik di Timur Tengah hingga arah suku bunga tinggi yang belakangan muncul imbas kenaikan ongkos energi.
“Dinamika-dinamika itu justru yang berdampak lebih langsung kepada pergerakan di pasar ketimbang hal-hal lain,” ujarnya.
Dengan demikian, dia menilai pergerakan IHSG maupun keputusan investor tidak tepat jika hanya dikaitkan dengan pidato atau arah kebijakan Prabowo.
“Kalau itu dikait-kaitkan, saya kira tidak terlalu pas. Karena di setiap keputusan investasi tentu ada rasional ekonomi di situ,” tuturnya.
Dari lantai bursa, investor asing mencatatkan posisi net sell sekitar Rp1,68 triliun di pasar reguler sepanjang pekan lalu. Adapun, posisi net sell itu mencapai Rp90,59 triliun sejak awal tahun ini.
Sebelumnya, analis teknikal BRI Danareksa Sekuritas, Reza Diofanda mengatakan, IHSG menguat 0,83% secara mingguan ke level 5.924, ditopang rebound teknikal dan membaiknya sentimen domestik.
Namun, penguatan masih terbatas seiring jual bersih asing Rp1,68 triliun di pasar reguler dan pelemahan rupiah mendekati Rp18.100 per dolar AS.
“Momentum mulai membaik, namun penembusan level 6.000 masih diperlukan untuk mengonfirmasi penguatan lanjutan,” kata Reza dalam risetnya pada Senin (13/7/2026).
Pasar pekan ini akan mencermati inflasi AS periode Juni. Inflasi utama diperkirakan melandai menjadi 3,9% secara tahunan dari 4,2%, sementara inflasi inti diproyeksi bertahan 2,9%.
“Inflasi yang lebih tinggi dari ekspektasi berpotensi memperkuat narasi higher for longer dan menekan rupiah, sedangkan data yang lebih rendah dapat membuka peluang risk-on,” ujarnya.
Reza memperkirakan IHSG berkonsolidasi dengan kecenderungan menguat terbatas pada support 5.850–5.880 dan resisten 6.000–6.050.
Sementara itu, Phintraco Sekuritas memproyeksikan IHSG bergerak sideways di kisaran 5.800–6.000 pada pekan ini.
Perkembangan konflik AS-Iran dan potensi gangguan pasokan minyak global dari Timur Tengah masih menjadi perhatian pasar.
(cpa/naw)






























