Rizwi menegaskan Ditjen Migas bakal memfasilitasi koordinasi antarlembaga atas usulan pemerintah kabupaten Selayar tersebut. Selain itu, dia menyatakan Ditjen Migas akan mengkaji aspek teknis dan keekonomian bersama badan usaha terkait, seperti PT Pertamina (Persero).
“Saat ini Pemerintah memang tengah memikirkan penguatan cadangan energi nasional agar tidak rentan terhadap dinamika global. Usulan dari Pak Bupati ini bisa menjadi salah satu titik alternatif yang sangat strategis untuk mengembangkan storage BBM di Indonesia, khususnya untuk memperkuat pasokan dan ketahanan energi di kawasan Timur Indonesia,” ungkap Rizwi.
Dalam kesempatan yang sama, Bupati Kepulauan Selayar Muhammad Natsir Ali menyatakan keandalan pasokan BBM di wilayahnya sangat bergantung pada kelancaran transportasi laut dari terminal BBM Makassar, yang harus ditempuh melalui jalur laut dengan jarak 170–190 km atau sekitar 8 hingga 10 jam pelayaran.
Dia menambahkan, pemerintah kabupaten Selayar juga telah menyiapkan lahan seluas 2.000 hingga 3.000 hektar yang sudah disahkan dalam Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW).
“Pembangunan fasilitas storage tank BBM yang diusulkan Pemkab Kepulauan Selayar ini dirancang sebagai fasilitas logistik energi yang terintegrasi dengan sistem transportasi laut, antara lain seperti tangki timbun BBM, dermaga kapal tanker (jetty), sistem pipa distribusi BBM, fasilitas bongkar muat BBM serta sistem keamanan dan pengendalian lingkungan,” kata dia.
Sebelumnya, PT Pertamina Patra Niaga (PPN) mengungkapkan berencana membangun storage BBM dengan kapasitas 153.000 kl di Palaran, Kalimantan Timur; Biak, Papua; dan Maumere, Nusa Tenggara Timur.
Direktur Infrastruktur Project dan Aset Integritas PPN Setyo Pitoyo menjelaskan tangki BBM di Maumere bertujuan untuk meningkatkan stok operasional di wilayah tersebut dan diharapkan dapat menjadi sentral energi di Nusa Tenggara Timur.
Sementara di Biak, storage BBM tersebut dibangun agar kebutuhan BBM di kawasan dapat terpenuhi.
“Kemudian yang di Biak tentu harapannya dengan melakukan upgrade itu nanti bisa kita mendatangkan minyak yang lebih banyak di situ sehingga bisa kawasan lokal di Biak itu bisa kita penuhi,” ujar Setyo di Kilang Cilacap, Rabu (29/4/2026).
Adapun, alasan membangun tangki penyimpanan BBM di Palaran adalah untuk mengganti salah satu terminal BBM di Samarinda yang letaknya di tengah kota.
“Kemudian kalau Palaran itu sepertinya mengganti salah satu apa terminal BBM kita yang di Samarinda di mana yang di Samarinda itu di tengah kota. Jadi kita agak pinggirin dikit lah seperti itu,” tegas dia.
Di sisi lain, Dirjen Migas Kementerian ESDM mengungkapkan bakal terdapat storage BBM tambahan yang dibangun di Karimun, Kepulauan Riau.
Laode menyatakan fasilitas penyimpanan BBM internasional yang berada di Karimun tersebut masih memiliki lahan yang dapat dibangun storage baru.
“Iya di Karimun itu ada. Karimun itu kan penyimpanan internasional di sana, dan di sana itu ada slot yang masih bisa dibangun storage. Jadi slot itu nanti yang kemungkinan akan kita manfaatkan untuk penambahan storage tersebut,” kata Laode kepada awak media, di Kompleks DPR RI, Rabu (15/4/2026).
Adapun, tangki penyimpanan BBM di Karimun memiliki kapasitas penyimpanan sebanyak 730.000 kiloliter. Tangki penyimpanan tersebut dimiliki oleh pihak swasta, yaitu PT Oiltanking Karimun.
Sekadar informasi Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas (BPH Migas) melaporkan kapasitas penyimpanan BBM nasional mencapai 9,16 juta kiloliter.
Dari besaran itu, sebanyak 67% atau 6,1 juta kiloliter di antaranya merupakan milik PT Pertamina (Persero), sementara 33% penyimpanan BBM di RI atau 3,06 juta kiloliter dimiliki non-Pertamina.
Berikut 5 provinsi yang memiliki kapasitas penyimpanan BBM terbesar:
- Jawa Timur sebesar 1,15 juta kiloliter
- Jawa Barat sebesar 950.000 kiloliter
- DKI Jakarta sebesar 910.000 kiloliter
- Kepulauan Riau sebesar 890.000 kiloliter
- Banten sebesar 770.000 kiloliter
(azr/del)































