Bahkan, Bahlil mendorong agar bensin bernilai oktan (RON) 92, 95, dan 98 juga dapat diproduksi seluruhnya dari kilang dalam negeri—guna mengurangi ketergantungan impor.
“Supaya apa? Tidak lagi ada persoalan tentang impor. Tidak ada lagi pikiran-pikiran spekulasi yang muncul seolah-olah ada sesuatu dalam permainan impor-impor. Kita pengen semuanya ada di dalam negeri,” tutur Bahlil.
Dalam sambutannya pada peresmian B50, Bahlil menguraikan rerata konsumsi solar nasional adalah 38—40 juta kiloliter (kl) per tahun, di mana Indonesia secara historis mengimpor sekitar 3—4 juta kl per tahun di antaranya.
“Dengan implementasi B50, maka kita tidak lagi melakukan impor produk solar ke negara kita, dan ini adalah pertama kali,” tegasnya.
Bagaimanapun, dia tidak menampik implementasi B50 merupakan pekerjaaan yang tidak mudah karena kenaikan bauran biodiesel dalam solar biasanya hanya sekitar 5%—10% dengan rentang kenaikan sekitar 3 tahun sebelum diujicobakan.
Akan tetapi, lanjutnya, Presiden Prabowo Subianto menginginkan agar B50 dapat diimplementasikan pada 2026 atau hanya berselang setahun dari mandatori B40.
“Karena ini bukan persoalan B50-nya, tetapi kedaulatan, kemandirian, dan harga diri bangsa untuk mengadilkan kedaulatan energi,” ujar Bahlil.
Dalam kesempatan sebelumnya, Bahlil menargetkan Indonesia dapat mulai menghentikan impor solar tahun ini.
Pemerintah bakal memulai stop impor solar pada solar dengan angka setana atau cetane number (CN) 48. Sementara impor solar berkualitas tinggi atau CN51 akan dihentikan pada semester II-2026.
Bahlil menerangkan langkah menghentikan impor solar itu berdasarkan kapasitas produksi domestik yang bakal naik setelah Refinery Development Masterplan Program (RDMP) di Kilang Balikpapan beroperasi.
Selain itu, Bahlil menambahkan bahwa kementeriannya bakal mengerek bauran solar dengan biodiesel sebesar 50% pada semester II-2026.
Selepas penerapan B50, Bahlil memperkirakan produksi solar domestik bakal surplus sekitar 4 juta ton nantinya.
"Pada 2026 kita tidak lagi melakukan impor solar C48, informasi ini bagus bagi kita, tetapi tidak bagus bagi importir," kata Bahlil di Kuliah Umum Media Indonesia, Jakarta, Kamis (12/2/2026).
(azr/wdh)
































