Di samping itu, saham–saham yang menguat dan menjadi top gainers di antaranya saham PT Prodia Diagnostic Line Tbk (PRDL) yang melesat 35%, saham PT Niramas Utama Tbk (JELI) melonjak 24,91%, dan saham PT Multi medika Internasional Tbk (MMIX) melejit 23,62%.
Bursa Saham Asia lainnya turut menguat searah dengan IHSG, CSI 300 (China), Shenzhen Comp. (China), SETI (Thailand), Shanghai Comp. (China), NIKKEI 225 (Jepang), Straits Times (Singapura), KOSDAQ (Korea Selatan), KOSPI (Korea Selatan), SENSEX (India), dan TOPIX (Jepang), yang berhasil menguat masing–masing mencapai 2,54%, 2,22%, 2,03%, 1,65%, 1,38%, 1,21%, 1,15%, 0,62%, 0,37%, dan 0,35%.
Di sisi berseberangan, TW Weighted Index (Taiwan), PSEI (Filipina), Ho Chi Minh Stock Index (Vietnam), Hang Seng (Hong Kong), KLCI (Malaysia), dan S&P/ASX 200 (Australia) yang tertekan dan drop dengan masing-masing 0,83%, 0,83%, 0,71%, 0,71%, 0,35%, dan 0,26%.
Sentimen yang meragam IHSG dan Bursa Asia hari ini datang dari ketegangan yang kembali memanas antara Amerika Serikat (AS) dan Iran, memaksa aktivitas pelayaran di Selat Hormuz nyaris kembali lumpuh pada Kamis (9/7/2026).
Terbaru, AS melancarkan serangan (lagi) terhadap Iran dalam dua hari berturut–turut. Ketegangan ini mencerminkan rapuhnya gencatan senjata antara kedua negara yang berkonflik, sekaligus meningkatkan kecemasan pasar terhadap keamanan di selat ini.
Mengacu pada data pelacakan kapal Bloomberg, pergerakan di Selat Hormuz sebagian besar berada di jalur sisi utara yang mendapat persetujuan Iran. Sebaliknya, koridor pelayaran Oman yang didukung AS hampir tidak dilalui kapal sama sekali.
Jika ditarik ke belakang, puncak arus kapal di Selat Hormuz terjadi pada 1 Juli, yang tercatat dilintasi 18 kapal. Lalu, 6 Juli menjadi titik balik, ketika jumlah kapal langsung turun tajam dari 15 kapal menjadi hanya 6 kapal. Kemudian, pada 7 Juli jumlahnya kembali menyusut menjadi 5 tersisa kapal, terendah sepanjang periode.
Ketidakpastian kembali meningkat, kondisi arus lalu lintas kapal pada pekan ini berbanding terbalik dengan aktivitas pelayaran beberapa waktu yang lalu. Dalam tiga minggu sejak AS dan Iran menyepakati perjanjian sementar untuk membuka kembali Selat Hormuz, rata-rata terdapat 34 kapal komoditas yang melintas setiap hari, malahan, lalu lintas sempat mencapai 59 kapal pada 24 Juni, berdasarkan data Kpler yang dilansir Bloomberg News.
Pasar energi global terguncang lagi baru–baru ini akibat bangkitnya konflik antara Washington dan Teheran, yang mendorong harga kontrak berjangka minyak mentah Brent sempat kembali di atas US$80 per barel.
Seperti yang dilaporkan Bloomberg News, Ahli Strategi Pasar Ed Yardeni mengatakan runtuhnya gencatan senjata antara AS dan Iran berisiko memicu percepatan baru inflasi, yang pada nantinya dapat memaksa Bank Sentral AS (Federal Reserve/The Fed) kembali menaikkan suku bunga acuan.
Terlebih lagi, sejumlah pejabat The Fed dalam pertemuan kebijakan moneter terbaru mereka menyatakan terdapat alasan untuk menaikkan suku bunga, meskipun pada ujungnya tetap mendukung keputusan untuk mempertahankan suku bunga di level yang sama.
Yang turut jadi catatan pelaku pasar, risalah rapat Federal Open Market Committee (FOMC) pada 16–17 Juni yang dirilis Rabu menunjukkan meningkatnya kekhawatiran para pembuat kebijakan terhadap inflasi, sementara kekhawatiran mengenai pasar tenaga kerja sedikit mereda.
Para pejabat Federal Reserve menyatakan, inflasi akan tetap tinggi dalam jangka pendek dan kemudian mulai menurun seiring dengan meredanya dampak dari perang tarif dagang dan kenaikan harga energi serta berkurangnya gangguan pasokan lainnya yang terkait dengan penutupan Selat Hormuz.
“Namun demikian, para pejabat tinggi Federal Reserve menilai bahwa risiko terhadap prospek inflasi masih cenderung meningkat,” papar Phillip Sekuritas Indonesia.
(fad)































