Logo Bloomberg Technoz

Pertama, serangkaian indikator ekonomi semakin memperkuat persepsi bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia mulai kehilangan momentum. Pelemahan terlihat pada konsumsi rumah tangga, aktivitas manufaktur, hingga tingkat keyakinan konsumen yang terus menurun dalam beberapa bulan terakhir. 

Terbaru, Survei Penjualan Eceran (SPE) Bank Indonesia terbaru mengindikasikan bahwa mesin pertumbuhan ekonomi Indonesia mulai kehilangan tenaga, dan menggambarkan bahwa konsumsi bukan cuma belum pulih, tetapi laju pelemahannya malahan semakin dalam.

Penjualan ritel pada April mengalami kontraksi 3,7% secara tahunan, lalu kembali turun 0,39% pada Mei, dan diperkirakan masih akan berlanjut pada Juni menjadi turun 4,4%. 

Kedua, S&P Dow Jones Indices memasukkan Indonesia ke dalam daftar pemantauan (watch list) untuk potensi reklasifikasi pasar pada 2027. Jika persoalan transparansi dan likuiditas pasar tidak segera dibenahi, pasar saham Indonesia berisiko diturunkan ke kategori special measures atau bahkan frontier market.

Ketiga, kenaikan yang kembali terjadi pada harga minyak mentah dunia kembali menghantui kondisi fiskal dan eksternal Indonesia yang masih bergantung pada impor energi. 

Keempat, arus neraca pembayaran (balance of payments) Indonesia tercatat berada di posisi yang terlemah sejak 2013. Berbeda dengan 2013, penurunan neraca pembayaran dan indeks nilai tukar efektif rupiah selama 12 bulan terakhir didorong oleh faktor domestik, sehingga menurut UBS arus modal turun ke level terendah dalam hampir 20 tahun. 

Di saat yang sama, investor banyak melepas kepemilikan mereka di pasar obligasi pemerintah. Dalam catatannya, UBS menilai selisih suku bunga Indonesia-AS yang rendah, membuat arus masuk ke pasar obligasi tetap terbatas sejak 2020. 

"Arus modal lain yang sensitif terhadap suku bunga, seperti pinjaman dan simpanan, juga turun sekitar 1% terhadap PDB," sebut UBS dalam laporannya. 

Berdasarkan data Bloomberg, yield obligasi pemerintah tenor pendek melonjak 13 bps hingga 7,4% pada sesi perdagangan siang tadi, dan melampaui tenor-tenor lainnya. Sore ini, yield tenor 1 tahun kembali memangkas kenaikannya 5,2 bps menjadi 7,32%, pada 15.20 WIB. 

Di sisi lain, UBS menilai ketidakpastian kebijakan domestik, seperti nasionalisme sumber daya alam serta pengendalian ekspor dan devisa, turut memperparah kebocoran arus modal, misalnya melalui under-invoicing ekspor dan lemahnya arus investasi sektor swasta. 

UBS memperkirakan pelemahan rupiah secara bertahap (slow-motion weakness) akan terus berlanjut, dengan proyeksi pergerakan di rentang Rp18.500-Rp19.000/US$ pada semester II-2026. 

Untuk diketahui, pada 15:25 WIB rupiah di pasar Non-Deliverable Forward (NDF) masih melanjutkan pelemahan 0,21% ke posisi Rp18.155/US$, setelah dibuka stagnan di level Rp18.117/US$ tadi pagi. 

(dsp/aji)

No more pages