Erdogan Kian Dekat Dapatkan F-35
Trump sudah lama mengagumi citra kepemimpinan Erdogan yang kuat. Ia mengisyaratkan siap mencabut sanksi industri pertahanan yang selama ini menghalangi Turki untuk membeli F-35, jet tempur canggih yang kerap dijuluki "jenderal lapangan di langit". Meski jalan menuju ke sana masih terganjal sejumlah hambatan, terutama penolakan dari rival regional seperti Israel dan Yunani, komentar Trump menjadi angin segar bagi Erdogan. Terlebih, Erdogan diprediksi bakal menghadapi tantangan politik berat dalam mempertahankan kekuasaannya yang telah berjalan puluhan tahun pada pemilu 2028.
Gencatan Senjata AS-Iran yang Rapuh Mulai Robek
Isu Iran menjadi topik pembicaraan utama pada hari Rabu, sekaligus menjadi isu yang paling membuat Trump frustrasi. Ia meluapkan kemarahannya kepada para pemimpin Republik Islam tersebut dengan menyebut mereka "sampah", menyusul rentetan serangan terhadap kapal-kapal dagang di Selat Hormuz yang memicu baku tembak baru antara AS dan Iran. Trump menegaskan bahwa masa gencatan senjata mereka mungkin telah berakhir dan menambahkan kemungkinan dirinya akan memerintahkan gelombang serangan udara susulan pada malam ini.
Zelenskyy Kembali Masuk "Lingkar Dekat" Trump
Berbanding terbalik dengan perselisihan sengit mereka di Ruang Oval Gedung Putih tahun lalu, pertemuan Volodymyr Zelenskyy dengan Trump kali ini berjalan sangat mulus. Trump mengucapkan selamat kepada Presiden Ukraina tersebut atas "pekerjaan luar biasa" dan keberanian pasukannya di medan perang. Sikap ini menandai pergeseran penting dari tahun lalu, saat Trump mencoba menjaga jarak dari sosok yang ia anggap bakal kalah perang. Secara konkret, Trump menyatakan AS akan mengizinkan Ukraina memproduksi mandiri rudal pertahanan udara Patriot. Belum jelas seberapa cepat proyek ini bisa berjalan, namun langkah ini membuka peluang perlindungan yang lebih kuat bagi kota-kota Ukraina yang dihantam rudal Rusia dalam beberapa pekan terakhir.
Greenland Masih Menjadi Obsesi Trump
Kehadiran Trump di forum internasional kembali diwarnai dengan keinginannya untuk menguasai Greenland dari Denmark. Kali ini ia menyesalkan keputusan Amerika Serikat mengembalikan kendali atas pulau terbesar di dunia itu setelah Perang Dunia II.
Meski demikian, isu Greenland tidak muncul dalam pidato tertutup Trump di hadapan para pemimpin NATO. Hal itu menunjukkan bahwa meskipun posisinya tidak berubah, Denmark dan negara-negara Eropa pendukungnya kemungkinan belum akan menghadapi tekanan baru dalam waktu dekat.
Ketidaksukaan Trump terhadap Spanyol Semakin Terlihat
Saat menyoroti negara-negara anggota NATO yang dinilai masih tertinggal dalam memenuhi target belanja pertahanan, perhatian Trump justru tertuju kepada Perdana Menteri Spanyol, Pedro Sánchez, alih-alih Slovenia yang hingga kini masih belum memenuhi target dasar belanja pertahanan sebesar 2 persen dari produk domestik bruto (PDB).
Trump tampak semakin menunjukkan ketidaksukaannya terhadap Sánchez sejak pertemuan NATO di Den Haag tahun lalu, ketika pemimpin Spanyol itu menolak target peningkatan belanja pertahanan aliansi.
Pada pertemuan kali ini, Trump menyebut Spanyol sebagai negara yang "tidak punya harapan" dan "buruk". Namun, Sánchez tampaknya tidak terlalu mempersoalkan kritik tersebut. Di dalam negeri, ia justru memperoleh dukungan karena dinilai berani menghadapi tekanan dari Amerika Serikat. Selain itu, tim nasional Spanyol juga menjadi salah satu favorit untuk melaju ke final Piala Dunia di New Jersey pada akhir bulan ini. Pertanyaannya, apakah Trump akan hadir menyaksikan pertandingan tersebut?
(bbn)






























