Logo Bloomberg Technoz

Centcom menyatakan pihaknya menargetkan instalasi milik Iran "untuk makin melemahkan kemampuan mereka mengancam kebebasan pelayaran di Selat Hormuz," menurut unggahan di media sosial.

Perkembangan harga minyak mentah. (Bloomberg)

Sebelumnya pada Rabu, Trump memperingatkan harga minyak dapat terus naik dan mengatakan serangan terhadap Iran dapat mencakup "pengambilalihan" Pulau Kharg, terminal ekspor minyak utama Iran.

Di pihak lain, Iran mengancam akan menutup Selat Hormuz sebagai respons, menurut laporan media pemerintah Press TV.

AS melancarkan gelombang serangan pertama setelah Iran menyerang kapal-kapal dagang pada awal pekan ini.

Insiden tersebut, yang menyasar sebuah kapal pengangkut gas alam cair (LNG) milik Qatar dan dua kapal tanker minyak berukuran sangat besar, menjadi serangan paling besar sejak nota kesepahaman (memorandum of understanding/MoU) mulai berlaku kurang dari sebulan lalu.

"Bentrokan ini pada dasarnya dipicu oleh ketidakjelasan dalam MoU, terutama mengenai status yang akan dimiliki Iran di Selat Hormuz," kata Gregory Brew, analis geopolitik di Eurasia Group.

"Dampaknya adalah meningkatnya eskalasi, meski kemungkinan belum akan kembali menjadi konflik berskala penuh, dan lalu lintas pelayaran melalui selat tersebut kemungkinan membutuhkan waktu lebih lama untuk kembali ke tingkat sebelum perang."

Kenaikan kembali harga minyak mengindikasikan potensi gelombang baru gangguan di pasar energi global yang masih terguncang akibat gangguan pasokan terbesar dalam sejarah.

Memanasnya kembali konflik juga berpotensi mempersulit keputusan pemilik kapal dan produsen energi di kawasan dalam menentukan pelayaran melalui jalur laut yang menghubungkan negara-negara produsen utama OPEC di Teluk Persia dengan pasar global.

Produk olahan minyak juga memperpanjang reli pada Rabu. Harga diesel melonjak hingga 14% setelah Rusia melarang ekspor diesel.

Harga bahan bakar tetap bertahan tinggi dalam beberapa pekan terakhir meskipun harga minyak mentah sempat melemah, didukung oleh meningkatnya serangan Ukraina terhadap infrastruktur energi Rusia serta ketatnya kapasitas pengilangan global setelah penutupan Selat Hormuz.

Pelaku pasar juga mencermati data persediaan minyak AS yang dirilis pada Rabu oleh Energy Information Administration (EIA), yang menunjukkan kenaikan pertama stok minyak mentah domestik sejak April.

Tren penurunan persediaan sebelumnya terhenti setelah ekspor turun ke level terendah sejak November, seiring pasokan AS harus bersaing dengan minyak Timur Tengah yang dijual dengan harga diskon dan kembali membanjiri pasar.

Meski demikian, persediaan minyak komersial AS masih berada di level terendah dalam sekitar empat tahun. Hal ini memunculkan ekspektasi bahwa Amerika mungkin tidak akan mampu mempertahankan perannya sebagai pemasok terakhir (supplier of last resort) bagi pasar global untuk waktu yang lama apabila ketegangan kembali meningkat.

Bahkan selama masa gencatan senjata, ketegangan di sekitar jalur pelayaran energi strategis tersebut tetap tinggi. Iran bersikeras bahwa mereka mengendalikan Selat Hormuz dan menyatakan pelayaran tanpa izinnya tidak sah.

Teheran pada Selasa juga menyampaikan kepada badan pengawas pelayaran Perserikatan Bangsa-Bangsa bahwa mereka berhak mengendalikan sebagian wilayah selat tersebut.

Sebelum serangan terbaru dimulai, Departemen Keuangan AS mencabut pengecualian sanksi (sanctions waiver) yang sebelumnya memungkinkan Teheran menjual minyak ke pasar internasional, membalikkan salah satu bagian penting dari kesepakatan sementara.

Kesepakatan untuk melonggarkan sanksi terhadap Iran telah membuat jutaan barel minyak mentah negara itu mengalir keluar dari Teluk Persia dalam beberapa pekan terakhir. Kini, nasib pasokan tersebut kembali berada dalam ketidakpastian.

(bbn)

No more pages