Walhasil, pemerintah kini tengah berfokus untuk membangun jalur transmisi guna mengalirkan kelebihan energi dari utara ke wilayah selatan Sulawesi.
"Transmisi ke bawah ini kan Morowali dan seterusnya banyak sekali industri di situ, kurang memang kan listriknya," tambah Eniya.
Terkait dengan rencana ekspor listrik ke Singapura, Eniya mengungkapkan pemerintah belum melakukan pembahasan lebih lanjut mengenai teknis regulasinya.
Salah satu poin krusial yang belum disepakati adalah mengenai skema pencatatan bauran energi baru terbarukan (EBT) dari hasil produksi listrik tersebut.
Hingga saat ini, Kementerian ESDM bersama pihak terkait masih mengkaji formula pencatatan bauran EBT agar kontribusi energi bersih tersebut dapat terbagi secara adil dan memberikan keuntungan optimal bagi ketahanan energi nasional.
Adapun, data Kementerian ESDM dan Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PLN 2025—2034 memproyeksikan bauran EBT di Sulawesi terus meningkat.
Saat ini, bauran EBT dalam energi primer Sulawesi sudah berada di atas 38% dengan fokus utama pada pemanfaatan potensi hidro (air), diikuti oleh energi angin/bayu (seperti PLTB Sidrap dan Jeneponto), serta tenaga surya (PLTS).
Sebelumnya, Perdana Menteri Singapura Lawrence Wong mengumumkan rencana investasi besar-besaran di sektor energi terbarukan Indonesia berupa pembangunan PLTS skala besar di Morowali.
Wong menilai Indonesia memiliki kekayaan sumber daya energi hijau yang luar biasa. Potensi inilah yang mendasari keputusan Singapura untuk menjalin kemitraan strategis dalam skala masif.
"Indonesia memiliki potensi yang sangat besar dalam energi terbarukan dan Singapura ingin bermitra dengan Indonesia dalam membuka potensi ini. Itulah sebabnya kita secara bersama-sama membangun salah satu proyek tenaga surya terbesar di Indonesia di Morowali, Sulawesi Tengah," ungkap Wong di Istana Negara, Senin (6/7/2026).
Adapun, proyek PLTS skala besar di Morowali ini diproyeksikan tidak hanya menyokong kebutuhan domestik, tetapi juga menjadi motor penggerak hilirisasi industri di wilayah tersebut melalui pasokan energi bersih.
"Ini akan membuka pasokan listrik bersih untuk menggerakkan industri di sana," jelas Wong.
Selain untuk kebutuhan industri lokal di Morowali, komitmen kerja sama ini diperkuat dengan penandatanganan nota kesepahaman atau memorandum of understanding (MoU) antara badan pengelola investasi Indonesia, Danantara, dengan sejumlah korporasi energi raksasa asal Singapura, yaitu Keppel Electric, Sembcorp Industries, dan Singapore Energy Interconnections.
MoU ini diproyeksikan menjadi cetak biru yang jelas untuk merealisasikan proyek interkoneksi listrik lintas batas.
"Hari ini, kita juga telah menandatangani MoU antara Danantara dan Keppel Electric, Sembcorp Industries, serta Singapore Energy Interconnections. Hal ini akan memberikan peta jalan yang jelas bagi negosiasi dan diskusi di antara para pihak, merintis jalan bagi proyek listrik lintas batas kita," paparnya
(smr/wdh)































