Direktur Utama BSI Anggoro Eko Cahyo juga merespons hal yang sama. “Saya enggak bisa komen ya,” ujarnya.
Direktur Utama BTN, Nixon LP Napitupulu juga enggan menanggapi pertanyaan wartawan ihwal rapat kinerja SAL di perbankan.
“Kita cuma ngobrol doang kok, ah gue balik dulu ya,” tuturnya.
Direktur Utama Bank Mandiri, Riduan menyebut rapat tersebut membahas mengenai persoalan penyaluran kredit oleh dana SAL.
“SAL lebih kepada membahas penyaluran segala macam. Kita ikuti seperti yang diarahkan pemerintah,” ucapnya singkat.
Situasi Likuiditas Perbankan
Ditemui terpisah, Ketua Komisi XI DPR Mukhamad Misbakhun menyebut alasan rapat tersebut dilaksanakan secara tertutup karena membahas isu penyaluran kredit hingga likuiditas perbankan.
Dia berdalih rapat dilakukan tertutup agar informasi yang seharusnya perlu diverifikasi dengan pihak lain dan belum diputuskan permanen tidak menimbulkan perdebatan.
“Rapat tertutup karena kita ingin mendengarkan kebutuhannya Himbara soal SAL itu seperti apa dan kita ingin mendengarkan secara khusus apa saja yang menjadi isu di dalam penyaluran kredit Himbara terkait dengan SAL itu,” ujar Misbakhun.
Politikus Partai Golkar itu menyebut anggota dewan hingga Himbara akan rapat bersama dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bahkan Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) untuk membicarakan situasi likuiditas perbankan.
Akan tetapi, saat ditanya mengenai kondisi likuiditas perbankan, Misbakhun enggan mengelaborasi lebih lanjut.
“Ya kan harus disinkronkan harus disamakan persepsinya, kebutuhan di industri perbankan khususnya Himbara seperti apa. Terus kemudian kebijakan likuiditas itu seperti apa dari Bank Indonesia. Kemudian masalah undisbursed loan yang menurut data bank sentral maupun pengawas bank itu seperti apa,” ungkapnya.
Sebelumnya, Wakil Menteri Keuangan Juda Agung mengonfirmasi SAL pemerintah yang ditempatkan di perbankan totalnya akan mencapai Rp381 triliun. Juda mengklaim permintaan kredit saat ini cukup tinggi, sehingga SAL dapat mendorong perbankan agar likuiditas tetap banyak.
Juda menjelaskan pada bulan ini pemerintah sejatinya sempat menarik SAL di perbankan sebanyak Rp110 triliun, tetapi dana tersebut segera dikembalikan. Tak hanya itu, pemerintah juga menambah dana sebanyak Rp110 triliun sebagai dana siaga yang siap kapan saja ditempatkan di Himbara.
Juda menegaskan SAL milik pemerintah senilai Rp381 triliun akan disimpan di perbankan hingga Desember 2026.
“Dari Rp281 triliun kan awalnya, Rp110 triliun ditarik bulan ini. [mau] dikembalikan lagi Rp110 triliun jadi tetap Rp281 triliun. Iya, sebentar lagi lah, segera lah [dikembalikan]. Itu dijaga sampai dengan bulan Desember 2026,” kata Juda ditemui di Kompleks Parlemen, Senin (29/6/2026).
(mfd/ros)

































